BMW Targetkan Pangkas 8.000 Pekerja Global, Tawarkan Pesangon hingga Rp13 Miliar

Sumber Gambar: ilustrasi AI
Depok, Stapo.id – Produsen otomotif asal Jerman, BMW Group, menyiapkan pengurangan sekitar 8.000 posisi pekerjaan secara global hingga akhir 2027 sebagai bagian dari strategi efisiensi biaya. Program tersebut menggunakan skema pengunduran diri sukarela dengan paket kompensasi yang dilaporkan dapat mencapai lebih dari 650.000 euro atau sekitar Rp13 miliar bagi karyawan tertentu.
Rencana ini muncul di tengah tekanan berat terhadap industri otomotif Jerman, mulai dari melemahnya penjualan di China hingga meningkatnya persaingan sengit dengan produsen kendaraan listrik asal Negeri Tirai Bambu tersebut. BMW berupaya memperbaiki profitabilitas dan menyesuaikan struktur organisasi agar tetap relevan dengan perubahan industri otomotif global.
Pengurangan Pekerjaan Melalui Skema Sukarela
Menurut laporan Reuters pada Juli 2026, BMW dan perwakilan pekerja telah menyepakati program pengurangan tenaga kerja yang menyasar beberapa ribu posisi di Jerman. Program tersebut terutama mencakup bidang administrasi dan pengembangan (R&D), sementara pekerja produksi dikecualikan dari skema yang diumumkan.
Laporan dari Handelsblatt yang dikutip sejumlah media menyebut jumlah pengurangan tenaga kerja diperkirakan mencapai 8.000 posisi secara global. Melalui efisiensi ini, BMW menargetkan penghematan sekitar 1 miliar euro per tahun yang akan dimulai pada 2028.
Besaran pesangon dipastikan bervariasi untuk setiap karyawan karena bergantung pada faktor usia, masa kerja, dan tingkat gaji. Laporan media menyebut sebagian paket kompensasi tertinggi dapat melampaui 650.000 euro. Namun, angka tersebut merupakan nilai maksimum yang dilaporkan dan bukan jumlah seragam yang diterima seluruh pekerja.
Tingginya minat karyawan terhadap program ini dilaporkan sempat membebani sistem portal internal perusahaan pada Oktober lalu. Meski demikian, pengajuan pengunduran diri secara sukarela tidak otomatis langsung disetujui oleh manajemen.
Tekanan Bisnis dan Strategi Efisiensi BMW
Saat ini BMW tengah menghadapi persaingan ketat di China yang merupakan salah satu pasar terpenting mereka. Di sisi lain, produsen otomotif Jerman ini harus menanggung tingginya biaya transisi menuju era kendaraan listrik (EV), persaingan harga, serta ketidakpastian iklim perdagangan internasional.
Dalam pengumuman strategi perusahaan pada 30 September 2026, BMW menyatakan komitmennya untuk menyederhanakan struktur manajemen, meningkatkan efisiensi rantai nilai, serta memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) guna mempercepat pengembangan produk dan pengambilan keputusan. Perusahaan menargetkan pengurangan hingga 20 persen jumlah divisi dan posisi manajemen terkait pada pertengahan 2027.
BMW menargetkan margin EBIT pada segmen otomotif dapat kembali mencapai kisaran 3 hingga 5 persen pada 2028, sebelum menuju target ideal 8 hingga 10 persen pada awal dekade 2030-an.
Langkah pemangkasan tenaga kerja ini menegaskan bahwa transformasi industri otomotif tidak hanya berdampak pada pergeseran teknologi kendaraan, tetapi juga menuntut penyesuaian struktur biaya dan kebutuhan sumber daya manusia. Keberhasilan langkah ini sangat bergantung pada kemampuan BMW menjaga efisiensi tanpa mengorbankan kapasitas inovasi dan daya saing produknya di pasar global.
