Otomotif

Penjualan EV China Melambat, Ekspor Jadi Penopang Industri Kendaraan Listrik Negeri Tirai Bambu

Ilustrasi kendaraan listrik dengan latar belakang grafik pertumbuhan ekspor global

Depok, Stapo.id – Industri kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) China menghadapi tantangan baru pada 2026. Setelah bertahun-tahun mencatat pertumbuhan pesat, penjualan kendaraan listrik di pasar domestik mulai melambat akibat melemahnya daya beli masyarakat, berkurangnya insentif pemerintah, serta persaingan harga yang semakin ketat. Meski demikian, dominasi China di pasar global belum tergoyahkan karena ekspor kendaraan listrik justru terus mencetak rekor baru.

Data yang dirilis China Passenger Car Association (CPCA) menunjukkan penjualan kendaraan penumpang di China terus mengalami tekanan. Dilansir dari Reuters, penjualan mobil domestik pada Juli 2026 turun 21,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya menjadi sekitar 1,47 juta unit. Penurunan tersebut merupakan bulan kesepuluh berturut-turut dan mencerminkan masih lemahnya permintaan di pasar otomotif domestik.

Meski pasar secara keseluruhan melemah, kendaraan energi baru atau New Energy Vehicle (NEV) yang mencakup mobil listrik murni (BEV), plug-in hybrid (PHEV), dan fuel cell masih mendominasi penjualan kendaraan baru di China. Berdasarkan data China Association of Automobile Manufacturers (CAAM) yang dikutip ANTARA, pangsa pasar NEV pada Juli 2026 telah melampaui 60 persen dari total penjualan kendaraan baru di negara tersebut. Capaian ini menunjukkan bahwa elektrifikasi tetap menjadi tren utama industri otomotif China meskipun laju pertumbuhannya mulai melambat.

Namun, perlambatan terjadi pada pertumbuhan volume penjualan. Sejumlah produsen mencatat penurunan penjualan domestik karena konsumen cenderung menunda pembelian kendaraan baru di tengah ketidakpastian ekonomi dan berakhirnya sejumlah program subsidi. Persaingan harga yang agresif antarprodusen juga menekan margin keuntungan perusahaan.

Dilansir dari Kontan, perlambatan pasar domestik mendorong produsen otomotif China semakin mengandalkan pasar internasional sebagai mesin pertumbuhan baru. Ekspor kendaraan menjadi strategi utama untuk menyerap kapasitas produksi yang sangat besar sekaligus menjaga pertumbuhan penjualan. Kondisi ini membuat banyak produsen mempercepat ekspansi ke Asia Tenggara, Eropa, Amerika Latin, hingga Timur Tengah.

Data Reuters menunjukkan ekspor kendaraan China pada Juli 2026 melonjak sekitar 88 persen dibandingkan tahun sebelumnya menjadi lebih dari 920 ribu unit. Lonjakan tersebut didorong oleh tingginya permintaan kendaraan listrik dan plug-in hybrid di berbagai negara berkembang maupun pasar Eropa.

Fenomena ini terlihat pada sejumlah produsen besar. BYD, misalnya, masih mencatat pertumbuhan penjualan global berkat ekspor yang meningkat tajam meskipun penjualan domestiknya mengalami penurunan. Reuters melaporkan penjualan luar negeri BYD hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya sehingga mampu mengompensasi melemahnya pasar di dalam negeri.

Di sisi lain, perlambatan juga dipengaruhi oleh semakin matangnya pasar kendaraan listrik China. Konsumen kini memiliki lebih banyak pilihan sehingga persaingan tidak lagi hanya ditentukan oleh harga, tetapi juga teknologi, fitur kecerdasan buatan (AI), sistem bantuan pengemudi (ADAS), hingga kemampuan pengisian daya cepat. Akibatnya, produsen yang tidak mampu menghadirkan inovasi baru berisiko kehilangan pangsa pasar.

Meskipun demikian, posisi China sebagai pusat industri kendaraan listrik dunia masih sangat kuat. Negara tersebut menguasai sebagian besar rantai pasok baterai, mulai dari pengolahan mineral, produksi sel baterai, hingga manufaktur kendaraan. Infrastruktur pengisian daya yang luas serta kapasitas produksi berskala besar juga menjadi keunggulan yang sulit disaingi negara lain.

Bagi Indonesia, perlambatan penjualan domestik di China justru dapat membawa dampak positif. Produsen otomotif asal China diperkirakan akan semakin agresif memperluas investasi dan pemasaran di luar negeri, termasuk Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai merek seperti BYD, Chery, GAC Aion, Geely, MG, Omoda, Jaecoo, hingga Wuling telah memperkuat kehadirannya di pasar nasional melalui pembangunan jaringan dealer, fasilitas perakitan, hingga investasi pabrik.

Persaingan tersebut memberikan lebih banyak pilihan bagi konsumen Indonesia, baik dari sisi teknologi maupun harga. Di sisi lain, industri otomotif nasional juga berpeluang memperoleh manfaat melalui peningkatan investasi, alih teknologi, penciptaan lapangan kerja, serta penguatan ekosistem kendaraan listrik yang tengah dibangun pemerintah.

Analis menilai perlambatan penjualan kendaraan listrik di China bukanlah tanda berakhirnya era elektrifikasi, melainkan fase konsolidasi setelah pertumbuhan yang sangat cepat selama beberapa tahun terakhir. Ke depan, produsen diperkirakan akan lebih fokus meningkatkan kualitas produk, efisiensi produksi, serta memperluas pasar ekspor untuk menjaga keberlanjutan bisnis di tengah persaingan global yang semakin ketat.