Studi Kasus Tiket.com di IPC 2026: Memotong Waktu Tunggu Registrasi dari 2 Menit Jadi Hitungan Detik Lewat AI

Sumber Gambar: Tim Produk Tiket.com di Indonesia Product Conference (IPC) 2026. (arsip stapo.id)
Depok, Stapo.id – Dalam acara Produk bergengsi Indonesia Product Conference (IPC) 2026 menyajikan beragam diskursus menarik seputar transformasi digital. Para praktisi mengupas tuntas pemanfaatan teknologi AI Tiket.com guna mengikis berbagai hambatan kerja operasional. Forum bergengsi ini berlangsung di Sheraton Grand Hotel Gandaria City Jakarta pada Kamis (24/9).
Head of Product Flight Tiket.com, Prasetyo Andy Wicaksono, memaparkan kendala masa lalu sebelum adopsi sistem kecerdasan buatan. Tim kerap menghadapi kendala penyelarasan akibat ketidaksiapan dokumen spesifikasi kebutuhan. Situasi tersebut memicu serangkaian klarifikasi mendadak serta mengganggu ritme kerja tim pengembang perangkat lunak.
“Hal itu membutuhkan beberapa diskusi yang sebenarnya memakan waktu justru di tahap-tahap tersebut, di luar dari jadwal yang kita siapkan,” ujar Praw. Kini tim mematangkan pemahaman alur kerja secara holistik sebelum memulai proses teknis. “Dengan begitu, requirement benar-benar matang dan bisa segera kita handover tanpa harus bolak-balik diskusi yang lebih mendalam,” pungkasnya.
Penerapan Teknologi AI Tiket.com Mengubah Alur Kerja
Selain mempercepat kesiapan dokumen produk, penerapan teknologi AI Tiket.com memangkas waktu tunggu transaksi para pengguna. AVP of Technology Tiket.com, Muhsin Shodiq, menyoroti lambatnya alur registrasi konvensional pada masa terdahulu. Antrean panjang sering kali memicu kejenuhan pelanggan saat hendak menghadiri sebuah kegiatan.
“Boring, apalagi kalau menunggu di registrasi tiket. Orang menunggu itu lama sekali. Mau pendaftaran, mau bayar tiket lagi, yang seperti itu biasanya yang paling lama,” ujar Muhsin. Ia menyebut birokrasi data dan proses manual dahulu menghabiskan waktu pengguna. “Sebelum ada AI, prosesnya bisa memakan waktu kurang lebih dua menit,” tambahnya.

Pergeseran Peran Menuju Orkestrator Sistem Modern
Pemanfaatan komputasi cerdas turut merevolusi rutinitas kerja harian para insinyur perangkat lunak. Muhsin menegaskan bahwa kecerdasan buatan kini mengambil alih mayoritas pengujian unit sistem yang rumit. Penanganan skenario luar biasa kini berjalan jauh lebih konsisten melalui otomasi peranti cerdas.
“Sekarang hampir bisa dibilang 99% unit test adalah AI-generated code. Kenapa? Karena AI lebih jeli dibandingkan kita, terutama untuk format edge cases,” ujar Muhsin. Pola integrasi teknologi AI Tiket.com mendorong praktisi teknologi beralih memikirkan arsitektur berskala besar. “Dari sisi engineering, sebenarnya engineer kini berperan sebagai orchestrator dari AI agar kita tidak perlu membaca ribuan baris kode tersebut secara manual,” pungkasnya.
Pemanfaatan kecerdasan buatan membuktikan lompatan efisiensi nyata dalam ekosistem pengembangan produk digital masa kini. Otomasi sistem tidak sekadar menyingkirkan pekerjaan rutin yang memakan waktu berharga. Langkah visioner ini membimbing talenta rekayasa peranti lunak menuju penciptaan arsitektur teknologi yang kokoh dan berkelanjutan.
