Tech

BRIN Kembangkan Genteng Berbahan Serabut Kelapa, Inovasi Biomaterial untuk Material Bangunan Ramah Lingkungan

Inovasi genteng berbahan dasar serabut kelapa ramah lingkungan dari BRIN

Sumber Gambar: Youtube Sekretariat Presiden

Depok, Stapo.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan genteng berbahan limbah serabut kelapa sebagai salah satu inovasi material bangunan ramah lingkungan. Produk tersebut menjadi perhatian setelah dipresentasikan kepada Presiden Prabowo Subianto dalam pameran hasil riset BRIN di Istana Negara. Pada kesempatan itu, Kepala BRIN Arif Satria menjelaskan bahwa inovasi tersebut merupakan bagian dari upaya mengembangkan material konstruksi berbasis sumber daya lokal yang lebih berkelanjutan. Ia menyebut genteng tersebut berbasis limbah sawit dan serabut kelapa, memiliki bobot ringan, ramah lingkungan, dan saat ini sedang menjalani uji coba di Nias.

Di balik inovasi tersebut, serabut kelapa memang telah lama menjadi objek penelitian dalam bidang ilmu material. Serat alami ini banyak dimanfaatkan sebagai bahan penguat pada berbagai produk komposit karena memiliki ketahanan mekanik yang baik dibandingkan banyak serat nabati lainnya. Berbagai publikasi ilmiah menyebut serabut kelapa mengandung lignin dalam kadar yang relatif tinggi, umumnya sekitar 40–45 persen, serta selulosa sekitar 35–45 persen. Kandungan lignin tersebut membuat serat kelapa lebih ulet, tidak mudah patah, dan memiliki ketahanan yang baik terhadap benturan dibandingkan sejumlah serat alam lain.

Karakteristik tersebut membuat serabut kelapa banyak diteliti sebagai bahan untuk panel bangunan, papan komposit, material interior kendaraan, hingga produk konstruksi ringan. Dibandingkan material sintetis seperti serat kaca (fiberglass), serat kelapa memiliki keunggulan berupa sifat terbarukan (renewable), mudah terurai secara alami, serta berasal dari limbah pertanian yang tersedia melimpah di Indonesia.

Indonesia sendiri merupakan salah satu produsen kelapa terbesar di dunia. Setiap tahun, industri kelapa menghasilkan limbah biomassa dalam jumlah besar, termasuk sabut kelapa yang selama ini sebagian besar hanya dimanfaatkan sebagai bahan bakar, media tanam, atau produk kerajinan. Melalui pendekatan riset material, limbah tersebut dapat ditingkatkan nilainya menjadi produk konstruksi dengan nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Dalam ilmu rekayasa material, pemanfaatan serat kelapa umumnya dilakukan dengan mengombinasikan serat tersebut dengan bahan pengikat sehingga membentuk material komposit. Pendekatan ini bertujuan memanfaatkan kekuatan serat sebagai penguat, sementara bahan pengikat berfungsi menjaga bentuk dan distribusi beban. Namun demikian, BRIN hingga saat ini belum mempublikasikan formulasi maupun proses manufaktur genteng yang dikembangkannya sehingga spesifikasi teknis produk tersebut masih belum diumumkan kepada publik.

Yang telah disampaikan secara resmi adalah keunggulan umum produk tersebut sebagai material yang lebih ringan dibandingkan genteng konvensional serta memanfaatkan limbah biomassa sebagai bahan baku. Bobot yang lebih ringan berpotensi mengurangi beban struktur bangunan dan mempermudah proses distribusi maupun pemasangan, meski performa teknisnya terhadap cuaca, usia pakai, maupun standar konstruksi masih menunggu hasil pengujian lanjutan dan publikasi resmi dari BRIN.

Selain aspek teknis, inovasi ini juga mencerminkan tren global dalam pengembangan **green building materials** atau material bangunan berkelanjutan. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak lembaga riset dan industri konstruksi mulai memanfaatkan biomassa seperti bambu, rami, kenaf, ampas tebu, sekam padi, hingga serat kelapa sebagai alternatif pengganti sebagian material berbasis mineral maupun polimer sintetis. Tujuannya bukan hanya mengurangi limbah pertanian, tetapi juga meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya dan menekan jejak karbon sektor konstruksi.

Dari sisi ekonomi, Kepala BRIN menyebut harga produksi genteng tersebut saat ini masih berada pada kisaran Rp26 ribu per unit. Namun, apabila telah memasuki tahap produksi massal, biayanya diproyeksikan dapat ditekan hingga sekitar Rp10 ribu per unit. Penurunan biaya tersebut diharapkan dapat meningkatkan daya saing produk sehingga lebih mudah diadopsi oleh industri bahan bangunan nasional.

Apabila pengembangan dan pengujian teknisnya berjalan sesuai rencana, genteng berbahan serabut kelapa berpotensi menjadi contoh bagaimana hasil riset biomaterial dapat dihilirisasi menjadi produk industri. Selain membuka peluang pemanfaatan limbah pertanian bernilai tambah, inovasi tersebut juga menunjukkan bahwa pengembangan teknologi material di Indonesia mulai mengarah pada penggunaan sumber daya lokal yang lebih berkelanjutan, sejalan dengan tren pembangunan rendah emisi dan ekonomi sirkular.