Kabar

Satu Abad di Indonesia, IBM Konsisten Dorong Inovasi Sosial dan Edukasi Teknologi

Ilustrasi IBM SkillsBuild untuk Stapo.id

Sumber Gambar: Juvanus Tjandra Managing Director IBM Indonesia Saat Welcoming Remarks Indonesia Builders Day 2026(arsip stapo.id)

Depok, Stapo.id – Managing Director IBM Indonesia, Juvanus Tjandra, memperkuat komitmen perusahaan dalam mendukung transformasi digital secara nasional. Beliau menyampaikan visi tersebut saat memberikan sambutan dalam acara Indonesia Builders Day 2026 di Jakarta (28/8). Melalui berbagai program terarah, perusahaan teknologi global ini berupaya melahirkan inovasi sosial yang berdampak luas bagi masyarakat luas.

Salah satu langkah nyata perusahaan adalah meluncurkan program pelatihan gratis bernama IBM SkillsBuild untuk masyarakat. Program inklusif ini membuka kesempatan belajar bagi kelompok penyandang disabilitas, kaum perempuan, hingga penduduk luar Jabodetabek. Lewat inisiatif ini, perusahaan ingin menciptakan pemerataan akses teknologi secara adil ke seluruh penjuru negeri.

Misi Inklusif Pelatihan Teknologi IBM SkillsBuild

“We want training in AI and other fields to be available for everyone in Indonesia,” tegas Juvanus Tjandra. Pernyataan tersebut menggambarkan komitmen kuat perusahaan dalam menyediakan akses edukasi teknologi tanpa batas. Kurikulum pelatihan mencakup kecerdasan buatan dan berbagai keahlian praktis yang industri modern butuhkan saat ini.

Untuk memaksimalkan penyerapan materi, pihak manajemen menggandeng mitra strategis lokal seperti Markoding, Dicoding, dan Hacktiv8. Kolaborasi erat ini membantu para mahasiswa dan profesional muda menguasai keterampilan teknologi dunia nyata. Hasilnya, kesiapan kerja para lulusan program IBM SkillsBuild mengalami peningkatan signifikan untuk menyongsong masa depan.

Rekam Jejak Inovasi Sosial dan Kemanusiaan

Selain fokus pada edukasi, korporasi ini memiliki sejarah panjang dalam membantu penanganan krisis kemanusiaan di tanah air. Perusahaan tercatat aktif membantu penanganan pascabencana tsunami Aceh pada tahun 2004 silam melalui sistem manajemen bantuan. Langkah kepedulian ini membuktikan bahwa teknologi dapat menyelamatkan dan mempermudah kehidupan manusia saat krisis.

“The first iteration in terms of development was in 2004, when IBM helped the Aceh post-tsunami area through the development of systems to manage humanitarian aid,” kenang Juvanus. Selanjutnya, perusahaan juga menyokong BNPB dengan menyediakan aplikasi berbasis cloud guna memantau distribusi bantuan medis saat pandemi melanda.

Kini, korporasi tersebut juga menerapkan inovasi sosial pada sektor kesehatan publik di wilayah Tanah Bumbu. Mereka merancang sistem khusus untuk mencegah angka kematian ibu demi meningkatkan kualitas hidup masyarakat lokal. Program kemanusiaan ini melengkapi kontribusi nyata perusahaan yang telah mendampingi Indonesia selama lebih dari satu abad.

Upaya konsisten ini menunjukkan bahwa teknologi bukan sekadar alat bisnis semata melainkan sarana pemberdayaan manusia. Melalui kolaborasi aktif dan edukasi merata, masa depan industri digital nasional tentu akan semakin cerah dan inklusif. Langkah ini menjadi inspirasi berharga bagi para pelaku wirausaha sosial dalam membangun ekosistem yang berkelanjutan.