Insight

Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional 2026: Mengenal Sejarah dan Pentingnya Menjaga Keanekaragaman Hayati

Ilustrasi keanekaragaman flora dan fauna Indonesia dalam peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional

Diperingati setiap 5 November, Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional menjadi pengingat bahwa kelestarian tumbuhan dan satwa berperan penting bagi keseimbangan alam dan kehidupan manusia.

Depok, Stapo.id – Indonesia memiliki kekayaan flora dan fauna yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Berbagai jenis tumbuhan dan satwa bukan hanya menjadi bagian dari identitas alam Nusantara, tetapi juga memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kekayaan tersebut, Indonesia memperingati Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional (HCPSN) setiap 5 November.

Peringatan ini menjadi momentum untuk mengenal lebih dekat keanekaragaman hayati Indonesia sekaligus mengingatkan masyarakat bahwa pelestarian alam membutuhkan keterlibatan banyak pihak, mulai dari pemerintah, komunitas, dunia pendidikan, pelaku usaha, hingga masyarakat umum.

Sejarah Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional

Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional berkaitan dengan Keputusan Presiden Nomor 4 Tahun 1993 tentang Satwa dan Bunga Nasional. Dokumen yang ditetapkan pada 9 Januari 1993 tersebut menjadi dasar penetapan sejumlah jenis flora dan fauna sebagai simbol nasional. Pemerintah kemudian memperingati 5 November sebagai momentum untuk meningkatkan kepedulian terhadap perlindungan dan pelestarian puspa serta satwa Indonesia.

Berdasarkan Keppres tersebut, terdapat tiga jenis bunga yang ditetapkan sebagai bunga nasional, yakni melati putih (Jasminum sambac) sebagai puspa bangsa, anggrek bulan (Phalaenopsis amabilis) sebagai puspa pesona, dan padma raksasa atau Rafflesia (Rafflesia arnoldii) sebagai puspa langka.

Sementara itu, tiga satwa yang ditetapkan adalah komodo (Varanus komodoensis) sebagai satwa nasional, ikan siluk merah atau arwana merah sebagai satwa pesona, serta elang Jawa sebagai satwa langka. Penetapan ini menunjukkan bahwa kekayaan flora dan fauna tidak hanya memiliki nilai ekologis, tetapi juga menjadi bagian dari kebanggaan nasional.

Mengapa Puspa dan Satwa Perlu Dilestarikan?

Tumbuhan dan satwa memiliki hubungan erat dengan keberlangsungan kehidupan. Tumbuhan berperan dalam menyerap karbon, menghasilkan oksigen, menjaga tanah, serta mendukung ketersediaan pangan. Sementara itu, satwa berperan dalam berbagai proses ekologis, seperti penyerbukan, penyebaran biji, pengendalian populasi organisme, dan menjaga rantai makanan.

Kerusakan habitat, perburuan liar, perdagangan satwa ilegal, pencemaran, serta perubahan iklim dapat mengancam keberadaan berbagai spesies. Ketika satu bagian ekosistem terganggu, dampaknya dapat menjalar ke bagian lain dan memengaruhi kehidupan manusia.

Karena itu, pelestarian tidak cukup hanya dilakukan melalui penetapan status perlindungan. Edukasi publik, penelitian, pengelolaan kawasan konservasi, pemulihan habitat, dan penegakan hukum juga dibutuhkan agar keanekaragaman hayati tetap terjaga.

Langkah Sederhana untuk Menjaga Keanekaragaman Hayati

Masyarakat dapat berkontribusi melalui kebiasaan sehari-hari. Menanam dan merawat tumbuhan lokal, mengurangi sampah plastik, menjaga kebersihan lingkungan, serta tidak membeli atau memelihara satwa liar yang dilindungi tanpa izin merupakan beberapa langkah yang dapat dilakukan.

Masyarakat juga dapat mendukung upaya konservasi dengan mengikuti kegiatan edukasi lingkungan, mengunjungi kawasan konservasi secara bertanggung jawab, dan menyebarkan informasi yang benar tentang flora serta fauna Indonesia.

Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional pada akhirnya bukan sekadar peringatan tahunan. Momentum ini menjadi ajakan untuk memahami bahwa manusia merupakan bagian dari ekosistem yang saling bergantung. Menjaga tumbuhan dan satwa berarti turut menjaga sumber kehidupan, keseimbangan alam, serta warisan keanekaragaman hayati bagi generasi mendatang.

Disclaimer: Konten ini adalah materi iklan dari MGID. Stapo.id tidak terkait dengan materi iklan ini.