Insight

Kepala SKK Migas Ungkap Produksi Sumur Rakyat Capai 400 Barel per Hari

Ilustrasi simbolis produksi sumur rakyat untuk ketahanan energi nasional.

Depok, Stapo.id – Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, mengungkapkan perkembangan positif produksi sumur rakyat di Indonesia yang kini mulai menunjukkan kontribusi nyata terhadap ketahanan energi nasional. Pernyataan tersebut disampaikan Djoko dalam wawancara usai sesi pleno IPA Convex 2026 di Indonesia Convention Exhibition BSD, Rabu (20/5).

Djoksis menjelaskan bahwa produksi sumur rakyat saat ini terus mengalami peningkatan meski volumenya masih bersifat fluktuatif di berbagai daerah. Menurutnya, faktor kondisi lapangan, kesiapan infrastruktur, hingga kualitas minyak mentah menjadi penentu utama dalam proses produksi harian.

Ia menyebut wilayah Jambi sempat mencatat capaian produksi tertinggi dari sumur rakyat dengan angka mencapai sekitar 2.700 barel per hari. Angka tersebut menjadi salah satu indikator besarnya potensi sumur rakyat dalam mendukung pasokan energi domestik apabila dikelola secara optimal dan berkelanjutan.

“Itu yang tertinggi waktu di Jambi ada 2.700-an,” ujar Djoksis saat menjelaskan perkembangan produksi sumur rakyat kepada awak media.

Meski demikian, Djoksis mengatakan rata-rata produksi nasional saat ini berada di angka hampir 400 barel per hari. Menurutnya, angka tersebut mulai menunjukkan kestabilan dibandingkan periode sebelumnya, seiring peningkatan koordinasi teknis dan pengawasan kualitas produksi di berbagai wilayah.

“Kalau seluruhnya, rata-ratanya sekarang sudah hampir 400 barel,” tambahnya.

Djoksis juga menjelaskan bahwa peningkatan kapasitas produksi tidak dilakukan secara instan.

Untuk operasional di MedcoEnergi misalnya, produksi saat ini masih dibatasi di kisaran 500 barel per hari sambil menjalani proses uji coba bertahap. Langkah tersebut dilakukan guna memastikan kualitas minyak mentah tetap memenuhi standar, terutama terkait kadar air dan stabilitas hasil produksi.

“Tapi kan terus meningkat karena uji coba dulu, dites dulu kadar airnya bagaimana, tidak langsung sekaligus,” jelas Djoksis.

Selain membahas produksi sumur rakyat, Djoksis turut menyinggung kesiapan armada penunjang industri migas nasional.

Ia menyebut Indonesia memiliki sekitar 1.200 unit kapal pipa maupun kapal solar yang mendukung kegiatan sektor migas. Dari jumlah tersebut, sekitar 250 unit difokuskan untuk mendukung aktivitas operasional lepas pantai atau offshore.

Menurut Djoksis, optimalisasi aset produksi dan infrastruktur pendukung menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan energi nasional di tengah meningkatnya kebutuhan energi domestik. Ia optimistis pengelolaan sumur rakyat yang semakin tertata dapat menjadi salah satu solusi tambahan untuk meningkatkan produksi minyak nasional secara bertahap.

Ke depan, SKK Migas juga berupaya memastikan pengembangan sumur rakyat tetap berjalan sesuai standar keselamatan dan tata kelola industri migas yang baik agar manfaat ekonominya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat dan daerah penghasil.