Hashim Djojohadikusumo Optimistis Sektor Energi Indonesia Tumbuh Pesat Berkat AI

Depok, Stapo.id – IPA Supervisory Board Hashim Djojohadikusumo menyampaikan optimisme besar terhadap masa depan sektor energi nasional di tengah meningkatnya kebutuhan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Pernyataan tersebut disampaikan saat menghadiri IPA Convex 2026 yang berlangsung di Indonesia Convention Exhibition BSD, Rabu (20/5).
Menurut Hashim, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan kebutuhan energi tertinggi di dunia. Hal ini didorong oleh stabilitas pertumbuhan ekonomi nasional yang diproyeksikan berada di kisaran 5 hingga 8 persen, ditambah bonus demografi berupa populasi usia muda yang terus bertambah dalam beberapa dekade ke depan.
Ia menilai kondisi Indonesia berbeda dibandingkan sejumlah negara maju seperti Jepang dan China yang mulai menghadapi penurunan populasi. Di Indonesia, pertumbuhan penduduk produktif justru diprediksi akan meningkatkan konsumsi energi secara signifikan, baik untuk kebutuhan industri, transportasi, maupun teknologi digital.
“Di Indonesia, kebutuhan energi justru akan semakin besar. Kondisi ini ditambah dengan satu unsur baru yang beberapa tahun lalu belum begitu jelas, yaitu AI atau kecerdasan buatan,” ujar Hashim dalam sesi diskusi IPA Convex 2026.
Hashim menjelaskan perkembangan AI global akan membawa dampak besar terhadap permintaan energi dunia. Infrastruktur AI seperti pusat data, komputasi awan, hingga server berkapasitas tinggi membutuhkan pasokan listrik yang sangat besar serta ketersediaan air bersih untuk sistem pendingin. Menurutnya, Indonesia memiliki keunggulan kompetitif karena didukung iklim tropis dan sumber daya air yang relatif melimpah.
Sektor Gas Bumi Sebagai Tulang Punggung
Ia juga menilai sektor gas bumi akan menjadi salah satu tulang punggung utama dalam mendukung kebutuhan energi masa depan, terutama untuk menopang infrastruktur digital dan teknologi berbasis AI. Dengan target pertumbuhan ekonomi nasional mencapai 7 hingga 8 persen, kebutuhan energi dinilai akan terus meningkat dalam jangka panjang.
Selain membahas potensi energi masa depan, Hashim turut menyoroti pentingnya kepastian hukum dan regulasi fiskal bagi investor di sektor minyak dan gas bumi. Pengusaha yang telah berkecimpung di industri migas sejak 1994 itu menegaskan bahwa iklim investasi yang stabil menjadi faktor penting untuk menjaga ketahanan energi nasional sekaligus menarik investasi baru.
“Maka saya optimis sektor energi akan sangat diandalkan, terutama gas. Mudah-mudahan juga minyak, karena minyak lebih mudah dikelola tanpa memerlukan infrastruktur serumit gas,” pungkasnya.
Optimisme terhadap sektor energi tersebut juga menjadi sinyal bahwa transformasi digital dan perkembangan AI dapat membuka peluang investasi baru di Indonesia. Tidak hanya di bidang teknologi, tetapi juga pada sektor pendukung seperti energi, infrastruktur, dan pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan.
