Insight

Pengukuran Dampak Ekonomi MICE Membutuhkan Standar Baku Yang Jelas

Ilustrasi Pengukuran Dampak Ekonomi untuk Stapo.id

Sumber Gambar: Diskusi Panel INAMICE 2026 (arsip stapo.id)

Depok, Stapo.id – Pengukuran Dampak Ekonomi menjadi instrumen krusial dalam memetakan kontribusi nyata sektor MICE terhadap pertumbuhan ekonomi nasional secara komprehensif. Akademisi dari Program Studi MICE Politeknik Negeri Jakarta, Imam Syafganti, Ph.D, menekankan urgensi standarisasi tersebut. Beliau menyampaikan pandangannya dalam forum INAMICE 2026 di Arion Suites Hotel Kemang, Jakarta, pada Rabu (17/6). Sektor industri pertemuan memerlukan metrik transparan untuk membuktikan signifikansi ekonominya.

Imam menjelaskan bahwa komunitas akademik saat ini lazim menggunakan beberapa metode pengukuran. Metode tersebut meliputi Tourism Satellite Account (TSA) hingga Meeting Satellite Account (MSA). Menurutnya, standarisasi ini bersifat mendasar karena setiap kegiatan memiliki karakteristik unik. “Kita perlu ukur dan memiliki standar yang jelas serta baku tentang bagaimana sebuah event memberikan dampak secara ekonomi,” ujarnya di hadapan para peserta.

Tantangan Implementasi Metode Pengukuran Dampak Ekonomi

Meskipun Kementerian Pariwisata telah mengembangkan Petunjuk Teknis (Juknis) berbasis kuesioner, Imam memberikan catatan kritis. Beliau menyoroti kendala teknis saat mengaplikasikan metode tersebut pada acara berskala internasional. Prosedur pengisian kuesioner oleh tamu negara dianggap kurang relevan dalam konteks diplomatik. Hal ini sering kali menghambat perolehan data primer yang akurat di lapangan.

“Bagaimana mungkin kita menyebarkan kuesioner kepada para delegasi konferensi internasional? Misalnya saat Indonesia menjadi tuan rumah G20; delegasinya adalah para menteri dan pejabat senior dari negara lain,” tuturnya. Imam mengusulkan penggunaan metode MSA yang lebih efektif karena mengandalkan asumsi standar global. Standar Oxford Economics menjadi acuan utama dalam menghitung pengeluaran delegasi secara lebih realistis.

Inovasi Digital Dalam Pengukuran Dampak Ekonomi

Simulasi Impact Calculator Event Economic (arsip stapo.id)
Simulasi Impact Calculator Event Economic (arsip stapo.id)

Simulasi dampak ekonomi G20 di Bali tahun 2022 menunjukkan angka pengeluaran yang signifikan. Rata-rata delegasi menghabiskan dana sekitar lima hingga enam juta rupiah setiap harinya. Perhitungan ini mencakup efek langsung, efek tidak langsung, hingga efek induksi bagi perekonomian lokal. Komponen penilaian meliputi biaya akomodasi, transportasi, hingga kebutuhan logistik penyelenggaraan acara.

Pemanfaatan teknologi seperti Event Economic Impact Calculator dari Eventmetric.com kini menjadi solusi praktis. Sistem digital ini mengolah data durasi, jumlah pengunjung, dan pola belanja secara otomatis. Hasilnya memberikan estimasi total nilai ekonomi bagi daerah penyelenggara secara cepat dan presisi. Langkah ini mempermudah penyelenggara dalam mempertanggungjawabkan dampak positif kegiatan mereka kepada publik.

Penerapan standar pengukuran yang baku merupakan syarat mutlak bagi profesionalisme industri MICE di Indonesia. Tanpa data yang valid, sulit bagi pemangku kepentingan untuk melihat korelasi antara investasi acara dengan kesejahteraan masyarakat. Sinergi antara akademisi, pemerintah, dan pelaku industri akan memperkuat posisi tawar sektor ini dalam struktur ekonomi makro.