Insight

Penerapan Mitigasi Risiko dalam Mengelola Bisnis PT Nindya Karya

Ilustrasi mitigasi risiko untuk Stapo.id

Sumber Gambar: Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT Nindya Karya Sri Haryanto Berbagi Pandangan Kepemimpinan, Manajemen Risiko dan Finansial Perusahaan (doc Sri Haryanto)

Depok, Stapo.id – Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT Nindya Karya, Sri Haryanto, membagikan pandangan mendalam mengenai pengelolaan bisnis modern. Menurut laporan Stapo.id, ia menggarisbawahi bahwa keselarasan antara perkataan dan perbuatan menjadi pondasi utama seorang pemimpin. Gaya kepemimpinan otoriter sudah tidak relevan lagi pada era keterbukaan informasi saat ini. Pemimpin masa kini harus mampu memberikan inspirasi agar anggota tim dapat bergerak secara mandiri.

Sri Haryanto juga menjelaskan pentingnya menjaga keteladanan nyata di hadapan seluruh jajaran organisasi. “Apa yang diucapkan pemimpin haruslah ia kerjakan; keselarasan antara kata dan perbuatan adalah hal yang paling penting. Jangan sampai kita bicara A, tetapi perilakunya B,” tegas Sri. Ia meyakini bahwa integritas ini akan menumbuhkan kepercayaan yang kuat dari para bawahan.

Membangun Kepercayaan Melalui Empati

Pemimpin yang baik harus menghindari sikap keras kepala dan senantiasa bersikap terbuka terhadap berbagai masukan. Sri Haryanto menerapkan metode diskusi aktif yang sehat sebelum merumuskan keputusan strategis perusahaan. Beliau meyakini bahwa perbedaan pendapat justru memperkaya perspektif organisasi sebelum mengambil kebijakan akhir. Namun, semua pihak harus menunjukkan komitmen penuh setelah menetapkan keputusan resmi bersama.

Untuk mendukung hal itu, pemimpin wajib meningkatkan kapasitas diri demi membangun kepercayaan tim secara optimal. “Kita harus menyiapkan diri dengan kapasitas dan kapabilitas agar staf atau siapa pun mengikuti perkataan saya,” tambahnya. Karakter jujur dan konsisten menepati janji menjadi modal utama dalam memimpin organisasi yang dinamis.

Penerapan Mitigasi Risiko dalam Keputusan Bisnis

Dalam menghadapi ketidakpastian pasar, manajemen wajib merumuskan langkah antisipasi yang matang melalui program mitigasi risiko. Sri Haryanto menegaskan bahwa ketajaman analisis dan perencanaan matang sangat memengaruhi keberhasilan penanganan tantangan usaha. Perusahaan perlu menyiapkan skenario cadangan seperti rencana alternatif untuk mengamankan kelangsungan operasional bisnis. Langkah mitigasi risiko yang tepat akan membantu perusahaan menangkap peluang baru dengan lebih aman.

Sri Haryanto juga mengingatkan agar para pelaku usaha tidak mengambil keputusan secara ceroboh demi mengejar kecepatan. “Jangan mengambil keputusan yang berani tetapi ceroboh karena itu berbahaya. Itulah mengapa kita perlu mencermati analisis secara mendalam dan memiliki pengetahuan,” tegasnya. Beliau menilai bahwa kombinasi antara keberanian terukur dan wawasan luas menghasilkan keputusan bisnis terbaik.

Oleh karena itu, beliau sempat mewajibkan para pejabat level tertentu untuk menempuh pendidikan formal lanjutan. Program pendidikan tersebut bertujuan meningkatkan kompetensi analisis dalam mendukung kelancaran mitigasi risiko organisasi. Wawasan akademis yang luas akan mengasah intuisi bisnis saat pemimpin menghadapi situasi yang penuh ketidakpastian.

Menjaga Keseimbangan Empat Pilar Utama

Kesehatan sebuah badan usaha tidak hanya bersandar pada pencapaian angka keuntungan semata. Sri Haryanto merumuskan empat aspek krusial yang menentukan stabilitas dan keberhasilan jangka panjang perusahaan. Keempat pilar tersebut meliputi pelanggan, mitra kerja atau vendor, lembaga perbankan, serta kesejahteraan para karyawan. Manajemen wajib menyelaraskan kepentingan seluruh pihak tersebut secara adil guna menjaga keberlanjutan bisnis.

Dalam penjelasannya, beliau mengingatkan agar manajemen menghindari kepuasan semu dari laporan keuangan di atas kertas. “Bisnis itu adalah tentang kepercayaan; bagaimana kita mendapatkan kepercayaan dari pemilik proyek. Kalau kalian menyebutnya pelanggan, kita juga harus menjaga kepercayaan dari pihak pendukung, dalam hal ini rekanan,” ujar Sri Haryanto. Keseimbangan arus kas riil jauh lebih penting daripada sekadar mencatatkan keuntungan nominal yang tidak sehat.

Secara keseluruhan, pemikiran Sri Haryanto menunjukkan bahwa tata kelola bisnis modern memerlukan keseimbangan aspek internal dan eksternal. Kepemimpinan yang kuat lahir dari keteladanan moral, sementara ketahanan bisnis bertumpu pada mitigasi risiko yang konsisten. Dengan mengutamakan nilai kolaboratif dan kehati-hatian, sebuah organisasi dapat tumbuh secara sehat dan berkelanjutan di tengah persaingan ketat.

 

Narasumber : Sri Haryanto 

Interviewer : Pradahlan Sindu Mardiko