Kabar

Industri Packaging Tidak Akan Mati, Packpreneur 2026 Dorong Inovasi Kemasan

Beragam contoh desain prototipe kemasan modern dan ramah lingkungan yang tertata rapi di studio desain.

Di tengah perkembangan digitalisasi, industri kemasan dinilai tetap memiliki peluang karena produk fisik masih membutuhkan perlindungan, identitas, dan daya tarik visual. Packpreneur 2026 mengajak masyarakat melihat kemasan lebih dari sekadar pembungkus.

Jakarta, Stapo.id – Industri kemasan masih memiliki peluang untuk berkembang di tengah perubahan teknologi dan digitalisasi. Kemasan tidak hanya berfungsi melindungi produk, tetapi juga menjadi bagian dari strategi industri, kreativitas, dan nilai jual sebuah bisnis. Perspektif tersebut menjadi salah satu pesan yang dibawa Packpreneur 2026, acara yang diselenggarakan mahasiswa Program Studi Teknologi Industri Cetak Kemasan Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) pada 20-21 Oktober 2026 di AEON Mall Tanjung Barat, Jakarta.

Project Officer Packpreneur 2026, Muhammad Soleh, mengatakan bahwa masyarakat kerap memandang kemasan sebatas pembungkus barang. Padahal, proses perancangannya melibatkan sistem, material, dan pertimbangan teknis yang memiliki peran penting dalam industri.

“Setelah mendalami studi kemasan, saya menyadari bahwa kemasan memiliki sistem sendiri dan memiliki potensi di bidang industri maupun kreatif. Jadi, kemasan lebih dari sekadar pembungkus yang mungkin sering dianggap remeh oleh orang-orang,” ujar Soleh saat ditemui di AEON Mall Tanjung Barat, Selasa (20/10).

Kemasan Fisik Masih Punya Peluang

Menurut Soleh, salah satu hal yang membuat industri kemasan tetap relevan adalah sifatnya yang berhubungan langsung dengan produk fisik. Berbeda dengan sejumlah layanan yang dapat sepenuhnya beralih ke format digital, kemasan produk tetap dibutuhkan untuk berbagai keperluan, mulai dari perlindungan barang hingga penyampaian informasi kepada konsumen.

“Peluang industri kemasan besar karena tidak akan dematerialisasi dan tidak akan ada e-packaging juga,” kata Soleh.

Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa perkembangan teknologi tidak selalu menghilangkan kebutuhan terhadap industri konvensional. Sebaliknya, inovasi desain, pemilihan material, efisiensi produksi, dan pengalaman konsumen dapat membuka ruang pengembangan baru bagi pelaku usaha kemasan.

Packpreneur Ajak Publik Melihat Kemasan dari Perspektif Baru

Mengusung tema “Rethink the Pack” dengan slogan “Rethink, React, Redefine the Pack”, Packpreneur 2026 menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memperkenalkan potensi industri kemasan kepada masyarakat. Acara tahun kedua ini berlangsung di Main Atrium lantai dasar dan Sky Garden lantai lima AEON Mall Tanjung Barat, dengan akses masuk gratis.

Melalui kegiatan tersebut, pengunjung diajak memahami alasan di balik penggunaan material dan struktur tertentu pada kemasan, seperti lapisan pada kotak susu maupun gas pelindung dalam kemasan makanan ringan. Hal-hal tersebut menunjukkan bahwa desain kemasan tidak hanya berkaitan dengan penampilan, tetapi juga mempertimbangkan fungsi dan kebutuhan produk.

Soleh menambahkan, persiapan acara yang dilakukan sejak akhir 2025 memberikan waktu bagi panitia untuk mematangkan konsep dan membangun kesadaran merek. Sebagai kegiatan yang baru memasuki tahun kedua, pengenalan Packpreneur kepada masyarakat menjadi salah satu tantangan penyelenggaraan.

Melalui Packpreneur, mahasiswa PNJ berharap kemasan semakin dipahami sebagai bagian strategis dari industri dan kewirausahaan. Di balik setiap bungkus produk, terdapat peluang inovasi yang dapat dikembangkan melalui perpaduan teknologi, desain, dan kreativitas.

Disclaimer: Konten ini adalah materi iklan dari MGID. Stapo.id tidak terkait dengan materi iklan ini.