Tech

Nemesis Assai Pantau Kejanggalan Anggaran Negara Berbasis AI

Ilustrasi Nemesis Assai untuk Stapo.id

Depok, Stapo.id – Nemesis Assai kini hadir sebagai alat pantau canggih untuk mendeteksi kejanggalan dalam anggaran pengadaan barang dan jasa pemerintah. Inovasi karya anak bangsa ini mampu membedah jutaan data yang sulit dipantau secara manual oleh manusia.

Abil Sudarman bersama tim Assai.id menciptakan sistem ini sejak pertengahan April 2026. Platform ini menggunakan teknologi Large Language Model (LLM) untuk menyisir data Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (SiRUP). Menurut laporan tim pengembang, teknologi ini menjadi garda depan dalam transparansi publik.

Proyek ini bersifat non-komersial dan murni untuk kepentingan masyarakat luas. Pengembang membangun sistem ini bersama Asosiasi Riset AI Indonesia dan berbagai penasihat independen. Seluruh metodologi platform bersifat terbuka agar publik dapat melakukan verifikasi mandiri secara mudah.

Cara Kerja Sistem Pemantau Anggaran

Nemesis Assai bekerja melalui lima tahapan sistematis untuk mengolah data mentah. Awalnya, sistem menarik data dari endpoint publik milik LKPP secara berkala. Setelah itu, tim membersihkan teks untuk menghindari penggandaan informasi yang tidak perlu.

Langkah krusial terjadi pada tahap ketiga saat model bahasa besar membaca judul paket belanja. Kecerdasan buatan ini memberikan penilaian awal terhadap potensi ketidakwajaran pada setiap usulan biaya. Mesin ini memahami konteks instansi dan kewajaran nilai anggaran tersebut.

Sistem kemudian menghitung distribusi label anomali berdasarkan wilayah atau kementerian tertentu. Terakhir, auditor manusia memverifikasi hasil pelabelan tersebut sebelum masuk ke dashboard publik. Keunggulan AI terletak pada kemampuannya memahami teks judul paket belanja yang rumit.

Klasifikasi Anomali pada Nemesis Assai

Sistem ini memberikan tiga label utama pada setiap paket pengadaan yang mencurigakan. Label Medium menandakan kesalahan administratif ringan atau ketidakkonsistenan kategori. Sementara itu, label High menunjukkan indikasi serius seperti dugaan penggelembungan harga anggaran secara signifikan.

Kategori paling menarik perhatian adalah label Absurd yang menyoroti pengadaan tidak masuk akal. Nemesis menemukan anggaran akuarium pimpinan senilai Rp 100 juta dengan biaya perawatan Rp 153 juta. Temuan lain mencakup pengadaan tanaman hias senilai Rp 1 miliar.

Platform ini juga menyoroti pengadaan kendaraan mewah senilai miliaran rupiah di beberapa provinsi. Bahkan, sistem mendeteksi anggaran produksi webseries di lingkungan lembaga tinggi negara. Temuan ini memicu perbincangan hangat di berbagai kanal media sosial belakangan ini.

Kehadiran sistem ini menjadi angin segar bagi pengawasan anggaran di Indonesia. Walaupun bukan alat pemberi vonis hukum, sistem ini berfungsi sebagai peringatan dini bagi auditor. Ke depan, transparansi data yang didukung teknologi AI akan semakin mempersempit ruang penyimpangan anggaran.