Insight

Mengingat Pengalaman Buruk Lebih Mudah Karena Alasan Ini

Ilustrasi mengingat pengalaman buruk untuk Stapo.id

Depok, Stapo.id – Manusia secara alami cenderung lebih mudah mengingat pengalaman buruk daripada berbagai momen indah dalam hidup mereka.

Para pakar psikologi menyebut kecenderungan alamiah ini sebagai bias negatif atau negativity bias. Sifat ini membuat seseorang memberikan perhatian yang jauh lebih besar pada peristiwa menyedihkan. Bahkan, kejadian tidak menyenangkan itu membekas kuat dalam pikiran untuk waktu yang sangat lama. Sistem kognitif kita menyerap informasi negatif secara instan sebagai bentuk pertahanan diri.

Mengapa Otak Lebih Suka Mengingat Pengalaman Buruk?

Dari sudut pandang evolusi, sistem ini memegang peran krusial bagi kelangsungan hidup manusia. Nenek moyang kita dahulu harus selalu waspada terhadap berbagai ancaman berbahaya di alam liar. Oleh karena itu, otak merancang sistem alarm yang sangat sensitif terhadap hal-hal negatif. Sistem alarm itu berfungsi agar manusia bisa menghindari bahaya serupa di masa mendatang.

Selain faktor kelangsungan hidup, emosi yang intens juga memperkuat proses mengingat pengalaman buruk ini. Rasa takut, kecewa, sedih, atau malu menghasilkan stimulasi emosional yang sangat kuat. Stimulasi kuat itu memaksa otak untuk mencatat setiap detail kejadian secara mendalam. Hal ini berbeda dengan momen bahagia yang biasanya tidak memicu reaksi kewaspadaan tinggi. Kita cenderung menganggap peristiwa positif sebagai hal yang biasa saja.

Peran Amigdala dalam Menyimpan Memori Negatif

Dokter spesialis saraf Yuda Taruna menjelaskan bahwa otak memiliki mekanisme khusus untuk menyortir memori. Otak cenderung membuang informasi yang sifatnya netral seiring berjalannya waktu. Namun, bagian otak bernama amigdala bekerja sangat aktif saat manusia menghadapi peristiwa buruk. Amigdala memproses emosi negatif dan membantu mengunci ingatan itu di dalam memori jangka panjang.

Hal ini menjelaskan mengapa satu kritik pedas meninggalkan kesan lebih mendalam daripada sepuluh pujian hangat. Manusia sering kali mengalami kecemasan karena otak terus memutar ulang memori buruk itu. Padahal, memutar ulang memori negatif secara terus-menerus dapat menurunkan kualitas hidup seseorang secara signifikan. Meskipun demikian, kita bisa melatih otak untuk fokus pada hal-hal positif melalui berbagai aktivitas menyenangkan.

Pada akhirnya, memahami bias negatif ini membantu kita menyadari bahwa kecemasan adalah reaksi biologis yang normal. Kita tidak perlu menyalahkan diri sendiri ketika terus mengingat pengalaman buruk masa lalu. Dengan pengelolaan emosi yang baik, kita dapat mengarahkan pikiran untuk lebih menghargai momen indah hari ini.