Kabar

Konsumsi BBM Subsidi Meningkat, Pemerintah Kaji Tambahan Kuota Pertalite

Ilustrasi nozzle dispenser pengisian bahan bakar minyak bersubsidi

Depok, Stapo.id – Pemerintah tengah mengkaji penambahan kuota bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis Pertalite untuk memenuhi peningkatan konsumsi masyarakat. Langkah ini dipertimbangkan setelah sebagian konsumen beralih dari BBM nonsubsidi ke Pertalite menyusul kenaikan harga bahan bakar pada pertengahan 2026.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, mengatakan pemerintah sedang menghitung kebutuhan tambahan kuota dan kesiapan anggarannya. Evaluasi tersebut ditargetkan dilakukan pada akhir Oktober 2026, tetapi besaran tambahan kuota belum ditetapkan.

“Ada kenaikan (kuota). Karena ada kenaikan, pasti akan terjadi penambahan kuota. Masih kami kaji,” ujar Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (23/10/2026), seperti diberitakan ANTARA.

Peralihan Konsumen Dorong Penyaluran Pertalite

Peningkatan konsumsi Pertalite berkaitan dengan perubahan pilihan konsumen dari BBM nonsubsidi beroktan 92, seperti Pertamax, ke Pertalite RON 90 yang harganya lebih rendah. Kenaikan harga BBM nonsubsidi pada Juni 2026 menjadi salah satu faktor yang mendorong pergeseran tersebut.

Data Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) menunjukkan rata-rata penyaluran Pertalite sebelum kenaikan harga Pertamax mencapai 75.795 kiloliter per hari. Setelah harga Pertamax naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter pada 10 Juni 2026, penyaluran Pertalite tercatat mencapai 82.760 kiloliter per hari, meningkat 9,19 persen dari rata-rata sebelumnya.

Pada Juli 2026, rata-rata penyaluran kembali naik menjadi 85.589 kiloliter per hari atau meningkat 12,92 persen dibandingkan tingkat sebelum kenaikan harga. Sementara itu, penyaluran pada Agustus turun menjadi 84.368 kiloliter per hari, meskipun masih berada di atas rata-rata awal.

Pemerintah telah mengalokasikan kuota Pertalite sebanyak 29,27 juta kiloliter untuk 2026. Berdasarkan data yang dikutip Reuters dari BPH Migas, hingga 20 Agustus 2026, penyaluran telah mencapai 18,23 juta kiloliter atau sekitar 62,3 persen dari alokasi tahunan. Pemerintah juga menyatakan harga BBM bersubsidi akan dijaga tetap stabil hingga akhir tahun.

Harga Minyak Global Tambah Tekanan Energi

Di tengah peningkatan kebutuhan BBM subsidi, pasar energi global juga menghadapi tekanan akibat eskalasi konflik di Timur Tengah. Harga minyak mentah Brent ditutup pada US$116,72 per barel pada Jumat (23/10/2026), naik 3,14 persen dalam sehari. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) ditutup pada US$103,27 per barel, menguat 3,8 persen. Brent juga mencatat kenaikan sekitar 6 persen sepanjang pekan tersebut.

Reuters melaporkan kenaikan harga minyak terjadi di tengah kekhawatiran gangguan pasokan energi, termasuk menyusul serangan kelompok Houthi terhadap infrastruktur energi Arab Saudi. Perkembangan tersebut menambah ketidakpastian pasar minyak internasional, meskipun keputusan penambahan kuota Pertalite tetap bergantung pada hasil perhitungan kebutuhan konsumsi dan anggaran pemerintah.

Disclaimer: Konten ini adalah materi iklan dari MGID. Stapo.id tidak terkait dengan materi iklan ini.