Inovasi Mobil Hidrogen Antasena ITS di Global Hydrogen Ecosystem

Sumber Gambar: Penampilan Mengesankan Antasena ITS Team di Global Hydrogen Ecosystem 2026 Summit and Exhibition di JICC Senayan Jakarta (arsip stapo.id)
Depok, Stapo.id – Tim Antasena dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya memamerkan mobil hidrogen Antasena pada ajang bergengsi. Pameran bertajuk Global Hydrogen Ecosystem 2026 Summit and Exhibition berlangsung di JICC Senayan, Jakarta pada 21 hingga 23 Juli 2026. Dua perwakilan tim, Zaidan dan Sasi, memperkenalkan prototipe kendaraan masa depan ini kepada para pengunjung pameran.
Keunggulan Efisiensi Tinggi Mobil Hidrogen Antasena
Kendaraan inovatif ini mengandalkan bahan bakar hidrogen ramah lingkungan dengan struktur bodi yang sangat ringan. Selain itu, konsumsi bahan bakarnya mampu menempuh jarak mengagumkan hingga 498 kilometer per meter kubik gas hidrogen. Pengembang mengambil nama Antasena dari tokoh pewayangan putra Bima sebagai simbol kekuatan dan identitas budaya lokal.
Tim riset hidrogen pertama asal Indonesia ini berdiri sejak 2010. Mereka mengusung visi besar sebagai pusat keunggulan riset energi. Sebab, mereka menyelaraskan proyek riset dengan target poin SDGs nomor 4 (Quality Education),8 (Decent Work and Economic Growth),13 (Climate Action) dan 15 (life on land). Upaya ini bertujuan mendorong kualitas pendidikan, pertumbuhan ekonomi, aksi iklim, serta kelestarian ekosistem darat.
Sinergi Regulasi Pemerintah dan Prestasi Internasional
Prestasi tim binaan ITS Surabaya ini terbukti sangat gemilang melalui berbagai penghargaan tingkat dunia. Mereka meraih posisi juara pada kompetisi bergengsi Shell Eco Marathon Qatar 2026 kemarin. Tim sukses membawa pulang Juara 1 Technical Innovation serta Juara 2 Prototype Hydrogen Fuel Cell. Hasil manis tersebut sekaligus mengamankan tiket emas pengembangan mobil hidrogen Antasena menuju ajang global.
Zaidan berharap masyarakat segera melirik potensi mobil hidrogen Antasena untuk kebutuhan masa depan. “Harapannya nanti mobil-mobil hidrogen itu benar-benar bisa dikomersialkan. Misalkan seperti EV dulu yang awalnya orang-orang ragukan, hidrogen pun begitu,” ujar Zaidan. Dia juga menekankan pentingnya kolaborasi kuat demi mewujudkan industrialisasi kendaraan masa depan ini.
“Harapannya ketika kami lulus dari sini, kami bisa mengembangkan ilmu dengan cara mengembangkan mobil ini, tetapi dibarengi juga dengan regulasi yang diturunkan baik dari pihak pemerintah maupun pihak-pihak yang bersangkutan,” pungkasnya. Kerja sama harmonis tersebut akan mendorong akselerasi teknologi bersih di masyarakat.
Kehadiran inovasi ini membuktikan bahwa generasi muda Indonesia siap memimpin riset energi hijau global. Oleh karena itu, dukungan nyata seluruh pihak tentunya akan mempercepat transisi energi bersih di tanah air. Langkah ini sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat keunggulan teknologi ramah lingkungan global.

