Kabar

EduTime 2026: Ayyesha Bagikan Cara Hadapi Kegagalan

Ilustrasi konsep manajemen kegagalan dan pengembangan diri dalam konteks pendidikan mahasiswa.

Depok, Stapo.id – EduTime 2026 menjadi salah satu rangkaian kegiatan dalam EXPASIGN 2026 yang digelar untuk memberikan ruang pembelajaran dan pengembangan diri bagi mahasiswa. Kegiatan yang diselenggarakan UKM Mars Project Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) ini berlangsung pada Sabtu (26/9/2026) di Gedung Pusat Unggulan Teknologi (PUT) PNJ.

Mengusung tema “The Gen-Z Catalyst: Tech-Driven Solutions for Sustainable Business”, EduTime 2026 tidak hanya membahas inovasi dan perkembangan teknologi, tetapi juga mengajak mahasiswa memahami kemampuan personal yang diperlukan untuk menghadapi tuntutan akademik, organisasi, hingga dunia profesional.

Kegiatan tersebut menghadirkan Ayyesha Humaira Fayyaza, UN Youth Delegate dan peraih medali emas internasional di bidang inovasi, sebagai pembicara. Dalam pemaparannya, Ayyesha membagikan pengalaman serta sejumlah strategi yang dapat diterapkan mahasiswa untuk mengelola aktivitas secara lebih terarah.

Ayyesha Tekankan Pentingnya Memecah Target Menjadi Langkah Kecil

Salah satu hal yang menjadi perhatian Ayyesha adalah cara mahasiswa mengelola banyak tanggung jawab dalam waktu bersamaan. Menurutnya, target besar sebaiknya tidak berhenti sebagai daftar keinginan, tetapi diuraikan menjadi pekerjaan-pekerjaan kecil yang dapat dilakukan secara konkret.

Ia mencontohkan bahwa target seperti menyelesaikan skripsi akan lebih mudah dikelola apabila dipecah menjadi sejumlah tahapan, mulai dari mencari referensi, menyusun latar belakang, hingga menyelesaikan bagian penelitian secara bertahap. Semakin besar dampak dari sebuah target, menurut Ayyesha, semakin rinci pula perencanaan yang perlu dibuat.

Ia juga menilai keseimbangan antara tanggung jawab dan hobi dapat dibangun melalui konsistensi. Mahasiswa tidak harus menghilangkan aktivitas yang disukai seperti bermain gim, menonton drama Korea, atau anime. Salah satu cara yang ia bagikan adalah menyediakan waktu singkat secara rutin, misalnya sekitar 20 menit sebelum tidur, untuk mengevaluasi perkembangan pekerjaan.

Selain produktivitas, Ayyesha mengingatkan pentingnya memiliki rencana cadangan. Ia membagikan pengalaman ketika terlalu percaya diri akan lolos seleksi masuk perguruan tinggi melalui jalur prestasi karena memiliki rekam jejak prestasi sejak kecil. Ketika hasil seleksi ternyata tidak sesuai harapan dan hanya berjarak empat hari dari keberangkatannya ke Amerika Serikat untuk mengikuti forum internasional, situasi tersebut membuat persiapan menjadi jauh lebih rumit.

Pengalaman itu membuatnya melihat bahwa seseorang tidak sebaiknya menggantungkan seluruh rencana pada satu peluang. Menyiapkan Plan B dinilai penting agar seseorang tetap memiliki arah ketika skenario utama tidak berjalan sesuai harapan.

Mengubah Kegagalan Menjadi Pengalaman yang Berdampak

Ayyesha juga mengajak mahasiswa membedakan hal-hal yang dapat dikendalikan dan hal-hal yang berada di luar kendali. Dalam perjalanan mengikuti berbagai kompetisi dan kegiatan sejak sekolah hingga perguruan tinggi, ia mengalami situasi seperti miskomunikasi dengan panitia hingga kegagalan dalam proses seleksi.

Menurutnya, keputusan orang lain, komentar lingkungan, maupun kendala teknis tidak selalu dapat dikendalikan. Sebaliknya, respons, fokus, dan usaha merupakan bagian yang masih dapat ditentukan oleh diri sendiri. Penilaian negatif dari lingkungan pun dapat ditempatkan sebagai “background noise” selama seseorang tetap berfokus pada proses belajar dan pengembangan diri.

Pengalaman sulit tersebut kemudian ia jadikan alasan untuk memberikan dukungan kepada orang lain. Ayyesha menyampaikan bahwa ketika memulai perjalanan prestasinya, ia pernah merasakan sulitnya berkembang tanpa mentor atau sistem pendukung yang memadai. Pengalaman itu mendorongnya untuk menjadi sosok yang dapat memberikan pendampingan kepada generasi berikutnya agar mereka tidak harus menghadapi kesulitan yang sama.

Project Officer EduTime 2026, Hasna Khaira, mengatakan pelaksanaan kegiatan mendapat respons positif dari peserta.

“Alhamdulillah, rangkaian acara EduTime 2026 yang merupakan bagian dari Expertime dapat berjalan dengan lancar. Antusiasme peserta luar biasa, terbukti dengan hadirnya sekitar 50 hingga 70 mahasiswa aktif dari berbagai universitas terkemuka seperti UGM, IPB, dan kampus lainnya,” ujar Hasna.

Ia berharap EduTime dapat terus berkembang dengan menjangkau lebih banyak mahasiswa dari berbagai universitas, bahkan hingga tingkat nasional dan internasional.

Pelaksanaan EduTime 2026 menunjukkan bahwa rangkaian EXPASIGN tidak hanya menjadi ruang kompetisi, tetapi juga menghadirkan pembelajaran yang berkaitan dengan pengembangan kapasitas mahasiswa. Melalui materi produktivitas, perencanaan, ketangguhan menghadapi kegagalan, dan pengembangan diri, kegiatan tersebut memberikan perspektif tambahan bagi mahasiswa dalam mempersiapkan perjalanan akademik maupun profesional.

Disclaimer: Konten ini adalah materi iklan dari MGID. Stapo.id tidak terkait dengan materi iklan ini.