BUMN Tekstil Bakal Konsolidasi Industri, Sritex Masuk Radar Akuisisi

Pemerintah menyiapkan perusahaan pelat merah untuk menyinergikan industri tekstil dari hulu ke hilir. Danantara sebelumnya menyebut rencana pendanaan US$6 miliar.
Depok, Stapo.id – Pemerintah berencana memperkuat industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional melalui pembentukan badan usaha milik negara (BUMN) khusus tekstil. Perusahaan tersebut direncanakan mengembangkan dan mengonsolidasikan sejumlah pelaku industri yang telah beroperasi, termasuk perusahaan yang mengalami kesulitan keuangan.
Menteri Perindustrian Sarmuji mengatakan pada Selasa (13/10/2026) bahwa BUMN tekstil tersebut akan mengakuisisi sejumlah perusahaan untuk menyatukan kemampuan produksi dan memperkuat rantai industri. Dalam pemberitaan Bloomberg Technoz dan Katadata, PT Sri Rejeki Isman Tbk atau Sritex (SRIL) disebut sebagai salah satu perusahaan yang masuk dalam rencana tersebut.
Sarmuji menyebut konsolidasi diharapkan membuat perusahaan tekstil dengan keunggulan berbeda dapat saling mendukung. Kementerian Perindustrian juga telah bertemu dengan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) untuk membahas pengembangan industri tersebut. Namun, hingga kini belum ada pengumuman lengkap mengenai daftar perusahaan, nilai akuisisi, dan jadwal penyelesaian transaksi.
Danantara Siapkan Pendanaan untuk Penguatan Industri
Rencana BUMN tekstil sebelumnya disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pada Januari 2026. Saat itu, Airlangga menyatakan pemerintah menyiapkan pendanaan US$6 miliar melalui Danantara untuk memperkuat sektor tekstil, termasuk pengadaan barang modal, penerapan teknologi baru, dan peningkatan ekspor.
Pemerintah juga menargetkan peningkatan ekspor tekstil dari US$4 miliar menjadi US$40 miliar dalam 10 tahun. Target tersebut disertai rencana memperdalam rantai nilai industri, terutama pada produksi benang, kain, pencelupan, pencetakan, dan penyelesaian akhir atau finishing. Angka tersebut merupakan target pemerintah, bukan capaian yang telah terealisasi.
Sementara itu, CEO Danantara Rosan Roeslani pada September 2026 menyatakan opsi pembentukan BUMN tekstil masih dikaji. Pilihan yang dibahas mencakup pembentukan perusahaan baru dan kemitraan dengan pelaku industri yang telah beroperasi.
Nasib Aset Sritex Jadi Perhatian
Sritex menjadi salah satu perhatian dalam rencana konsolidasi karena perusahaan tersebut telah mengalami kepailitan dan menghentikan kegiatan operasionalnya. Pemerintah sebelumnya menyatakan ingin menjaga agar kegiatan ekonomi dan lapangan kerja yang berkaitan dengan Sritex tetap dapat berjalan.
Meski demikian, masuknya Sritex dalam pemberitaan mengenai rencana akuisisi belum berarti seluruh aset atau badan usaha telah resmi diambil alih pemerintah. Status kepemilikan, mekanisme pengelolaan aset, kebutuhan investasi, dan keberlanjutan operasional masih menjadi hal yang perlu dikonfirmasi melalui pengumuman resmi.
Bagi industri tekstil, konsolidasi berpotensi membantu pemanfaatan mesin, teknologi, tenaga kerja, dan kapasitas produksi secara lebih terintegrasi. Keberhasilannya akan bergantung pada tata kelola perusahaan, kesiapan modal, daya saing produk, serta kemampuan menghadapi tekanan impor dan persaingan pasar global.
