Tech

Ternyata Bulan Terus Menjauh dari Bumi 3,8 Sentimeter per Tahun! Ini Penjelasan Sainsnya

Ilustrasi konseptual pergeseran orbit Bulan yang semakin menjauh dari planet Bumi.

Depok, Stapo.id – Bulan ternyata tidak selalu berada pada jarak yang sama dari Bumi. Berdasarkan pengukuran ilmiah selama puluhan tahun, satelit alami Bumi tersebut terus bergerak menjauh dengan laju rata-rata sekitar 3,8 sentimeter per tahun. Meski jaraknya bertambah sangat lambat, fenomena ini nyata dan telah dikonfirmasi melalui eksperimen Lunar Laser Ranging, salah satu pengukuran astronomi paling presisi yang pernah dilakukan manusia.

Laju tersebut mungkin terdengar kecil, kira-kira setara dengan pertumbuhan kuku manusia dalam satu tahun. Namun dalam skala jutaan hingga miliaran tahun, perubahan itu akan memengaruhi dinamika sistem Bumi dan Bulan, termasuk panjang hari di Bumi, pasang surut air laut, hingga penampakan gerhana Matahari.

Para ilmuwan mengetahui fenomena ini berkat cermin retroreflektor yang dipasang di permukaan Bulan oleh misi Apollo NASA serta wahana Lunokhod milik Uni Soviet. Dari Bumi, observatorium menembakkan pulsa laser ke arah cermin tersebut. Dengan mengukur waktu tempuh cahaya saat pergi dan kembali, ilmuwan dapat menghitung jarak Bumi dan Bulan dengan tingkat ketelitian hingga milimeter. Pengukuran yang dilakukan sejak 1969 itu menunjukkan bahwa Bulan memang terus menjauh sekitar 38 milimeter setiap tahun.

Fenomena ini bukan berarti gaya gravitasi Bulan melemah.

Penyebab utamanya adalah interaksi pasang surut (tidal interaction) antara Bumi dan Bulan. Gaya gravitasi Bulan menarik massa air laut sehingga membentuk pasang surut. Karena Bumi berputar lebih cepat daripada Bulan mengorbit, tonjolan pasang surut tersebut sedikit berada di depan posisi Bulan. Tonjolan air itu kemudian memberikan gaya gravitasi tambahan yang secara perlahan “mendorong” Bulan ke orbit yang lebih tinggi. Sebagai konsekuensinya, sebagian energi rotasi Bumi berpindah menjadi energi orbit Bulan.

Akibat perpindahan energi tersebut, rotasi Bumi juga ikut melambat. Penelitian menunjukkan panjang satu hari di Bumi bertambah sekitar 17 mikrodetik setiap tahun. Perubahannya sangat kecil sehingga tidak terasa dalam kehidupan sehari-hari, tetapi dalam jangka panjang harus diperhitungkan pada sistem pengukuran waktu presisi dan pemodelan astronomi.

Salah satu dampak paling menarik berkaitan dengan gerhana Matahari total.

Saat ini, ukuran tampak Bulan di langit hampir sama dengan Matahari karena kombinasi ukuran fisik dan jarak keduanya dari Bumi. Kesamaan inilah yang memungkinkan Bulan menutupi seluruh piringan Matahari ketika terjadi gerhana total.

Namun, karena Bulan terus menjauh, ukuran tampaknya di langit akan semakin kecil. Dalam waktu yang sangat jauh di masa depan, Bulan tidak lagi mampu menutupi seluruh Matahari sehingga gerhana Matahari total diperkirakan akan berhenti terjadi dan hanya menyisakan gerhana cincin. Perubahan tersebut diperkirakan baru terjadi dalam ratusan juta hingga lebih dari satu miliar tahun, sehingga tidak akan memengaruhi kehidupan manusia saat ini.

Perjalanan Bulan menjauh juga memberikan petunjuk mengenai sejarah tata surya. Berdasarkan model geologi dan astronomi, Bulan pada masa awal pembentukannya berada jauh lebih dekat ke Bumi dibandingkan sekarang. Saat itu, gaya pasang surut diperkirakan jauh lebih kuat dan satu hari di Bumi hanya berlangsung sekitar lima hingga enam jam. Selama miliaran tahun, interaksi gravitasi secara perlahan mengubah konfigurasi tersebut hingga mencapai kondisi yang kita kenal sekarang.

Fenomena ini menjadi contoh bagaimana perubahan yang tampak sangat kecil dapat menghasilkan dampak besar apabila berlangsung dalam rentang waktu geologis. Meskipun Bulan terus menjauh, para ilmuwan menegaskan bahwa proses tersebut berjalan sangat lambat dan tidak menimbulkan ancaman bagi kehidupan di Bumi dalam skala waktu manusia. Sebaliknya, pengamatan terhadap perubahan orbit Bulan justru membantu ilmuwan memahami evolusi sistem Bumi-Bulan, dinamika pasang surut, hingga meningkatkan akurasi perhitungan orbit yang digunakan dalam penelitian astronomi dan eksplorasi antariksa.