Baterai CATL Segera Diproduksi Massal Di Pabrik Karawang 2026

Depok, Stapo.id – Proyek pembangunan pabrik baterai CATL di Karawang, Jawa Barat, siap beroperasi secara komersial pada akhir Juli 2026 mendatang.
Indonesia Battery Corporation (IBC) memastikan fasilitas milik PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery (CATIB) ini terus menunjukkan kemajuan positif. Direktur Utama IBC, Aditya Farhan Arif, menyatakan bahwa progres fisik fasilitas produksi tersebut kini telah menyentuh angka 90 persen. Perusahaan patungan antara IBC dan anak usaha CATL asal Tiongkok ini memegang peran krusial dalam rantai pasok kendaraan listrik nasional.
Kesiapan Operasional Pabrik Baterai CATL
Pihak manajemen optimistis dapat memenuhi target waktu yang telah ditetapkan pemerintah sejak awal pembangunan. Kapasitas produksi pada fase pertama rencananya mencapai 6,9 Gigawatt hour (GWh). Angka ini menunjukkan keseriusan Indonesia dalam membangun kemandirian industri energi hijau di kawasan Asia Tenggara.
“Kapasitas pertama yang akan kita install ini 6,9 GWh dan Insya Allah masih on schedule. Jadi bulan Juli 2026 ini, akhir Juli 2026. Saat ini progresnya sudah 90% jadi kami cukup optimistis kita tetap akan bisa capai target,” kata Aditya kepada CNBC Indonesia.
Aditya juga menegaskan bahwa pabrik baterai CATL ini tidak akan menghadapi kendala dalam penyerapan hasil produksi. Skema bisnis industri ini memang berfokus pada permintaan yang sudah pasti dari para pembeli potensial di pasar global maupun domestik. Saat ini, tim teknis bahkan sudah mulai melakukan berbagai tahapan uji coba produksi untuk memastikan kualitas produk tetap terjaga.
“Jadi pada prinsipnya buyer sudah siap sehingga nanti ketika siap untuk komersial itu memang kita sudah langsung berproduksi secara komersial. Jadi sebetulnya saat ini trial-trial production juga sudah berjalan di pabrik PT CATIB ini,” ujarnya menjelaskan situasi terkini di lapangan.
Ekosistem Hilirisasi Nikel Terintegrasi
Rencana pengembangan kapasitas tidak berhenti pada fase awal saja karena IBC sudah menyiapkan strategi ekspansi lebih lanjut. Perusahaan menargetkan total kapasitas produksi dapat meningkat secara signifikan hingga mencapai angka 15 GWh dalam waktu dekat. Kapasitas sebesar itu mampu menyuplai kebutuhan komponen utama bagi ratusan ribu unit mobil listrik setiap tahunnya.
“Kapasitas CATIB ini kan di fase pertama ini 6,9 GWh dan akan segera kita ekspansi ke minimal setidaknya 15 GWh. Kalau kita konversi 15 GWh itu menjadi kendaraan listrik itu kurang lebih ekuivalen dengan sekitar 250 ribu kendaraan listrik,” ujar Aditya menambahkan detail teknis konversi daya tersebut.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, juga telah melaporkan perkembangan signifikan ini kepada Presiden Prabowo Subianto. Beliau menekankan bahwa selesainya proyek hilirisasi ini menjadi bukti nyata keberhasilan kolaborasi antara BUMN dan investor global. Integrasi dari sektor hulu tambang hingga ke hilir berupa sel baterai merupakan kunci utama daya saing ekonomi nasional.
“Tadi kami melakukan rapat dengan Bapak Presiden. Yang pertama adalah untuk mengevaluasi daripada program hilirisasi. Karena beberapanya sudah jalan, kami juga melapor kepada Bapak Presiden bahwa program hilirisasi kita untuk ekosistem baterai mobil yang kerjasama antara CATL dan Antam itu sudah selesai dan insyaallah akan diresmikan nanti di bulan Juli akhir. Itu sudah selesai,” kata Bahlil menegaskan kepastian jadwal peresmian.
Pembangunan pabrik baterai CATL ini mencerminkan langkah strategis Indonesia dalam mengoptimalkan kekayaan nikel untuk nilai tambah yang lebih tinggi. Keberhasilan operasional pada tahun 2026 akan memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain utama dalam rantai pasok global kendaraan listrik. Melalui integrasi hulu ke hilir, pemerintah berupaya menciptakan ekosistem industri yang berkelanjutan dan memberikan dampak ekonomi luas bagi masyarakat.

