Windows Media Player Di Windows 11 Menuai Banyak Kritik

Depok, Stapo.id – Pembaruan Windows Media Player versi modern untuk sistem operasi Windows 11 justru menuai banyak kritik dari para pengguna. Microsoft merancang aplikasi ini sebagai pemutar media utama untuk menggantikan aplikasi pemutar musik klasik. Namun, pembaruan versi terbaru justru membawa beban performa yang sangat berat bagi sistem komputer.
Laporan terbaru dari ExtremeTech mengungkapkan bahwa pemutar media modern ini mengonsumsi memori (RAM) sangat besar saat tidak bekerja. Pengujian independen membuktikan aplikasi baru tersebut memakan RAM sekitar 377 megabita saat posisi diam. Jumlah ini jauh lebih boros daripada pemutar media klasik yang hanya memerlukan memori 103 megabita. Oleh karena itu, aplikasi modern ini memboroskan kapasitas memori hingga tiga setengah kali lipat.
Masalah Biaya Codec dan Performa Lambat
Microsoft menyematkan aplikasi Windows Media Player baru ini ke dalam Windows 11 tanpa menyertakan beberapa codec video penting. Akibatnya, perusahaan kini membatasi akses video format HEVC dengan mewajibkan pengguna membeli ekstensi berbayar melalui Microsoft Store. Selain itu, pembaruan versi 24H2 juga menghapus dukungan bawaan untuk format audio AC-3 (Dolby Digital). Langkah ini akhirnya memaksa pengguna mencari pemutar media alternatif gratis lainnya seperti pemutar VLC.
Keunggulan Klasik Windows Media Player Dibanding Versi Modern
Laporan dari PCWorld dan Windows Latest menegaskan bahwa versi klasik Windows Media Player masih bekerja jauh lebih baik. Pemutar klasik berumur tujuh belas tahun tersebut sanggup membuka berkas video secara instan tanpa jeda pemuatan. Pengguna Windows 11 untungnya masih dapat memasang versi klasik ini melalui menu fitur opsional pada pengaturan sistem. Microsoft sendiri masih terus mempertahankan pemutar klasik ini demi menjamin kelancaran fungsi bagi para pengguna setianya.
Secara keseluruhan, langkah Microsoft memperbarui Windows Media Player baru justru menciptakan dilema bagi fungsionalitas sistem operasi mereka. Pembuat sistem operasi semestinya memprioritaskan keringnya beban kerja aplikasi bawaan alih-alih menambah elemen visual yang memakan memori. Pengguna komputer tentu menginginkan pemutar media yang andal, cepat, serta tidak memerlukan biaya lisensi tambahan. Keberadaan versi klasik tetap menjadi penyelamat sementara bagi efisiensi kerja harian pengguna komputer.

