Tembus Pasar Hingga Jepang, Ini Rahasia Manufaktur Hijau Nikisae Lurik di TEI 2026

Sumber Gambar: Suasana stan pameran Nikisae Lurik di bawah naungan Dinas Perdagangan Kota Surakarta pada ajang TEI 2026 di ICE BSD City. Produk tenun etis yang mengusung konsep keberlanjutan lingkungan ini berhasil menembus pasar mancanegara. (Foto: Stapo.id)
Depok, Stapo.id – Merek lokal asal Surakarta memperkenalkan pendekatan produk kerajinan tangan ramah lingkungan dalam ajang Trade Expo Indonesia ke-41 di Tangerang Selatan. Pameran dagang internasional ini berlangsung pada 14 hingga 18 Oktober 2026 di ICE BSD City. Lewat pameran tersebut, Nikisae Lurik membuktikan komitmen bisnis yang selaras dengan prinsip pembangunan berkelanjutan. Usaha binaan Dinas Perdagangan Kota Surakarta ini secara nyata mengadopsi kesetaraan gender, pekerjaan layak, serta produksi bertanggung jawab.
Inovasi Produk Nikisae Lurik dan Keberlanjutan
Jenama ini menghadirkan terobosan baru dengan mengubah karakteristik kain tradisional agar semakin nyaman bagi pengguna modern. Inovasi tersebut menghasilkan tekstur kain tenun yang jauh lebih halus daripada tenunan lawas. “Biasanya lurik itu kaku, tapi sekarang sudah enak dan lembut banget. Kita juga ada karpet daur ulang dari limbah tenun yang diolah lagi menjadi karpet ini,” ungkap Daffa saat pameran.
Langkah kreatif mengolah limbah benang menjadi karpet mencerminkan penerapan ekonomi sirkular secara konsisten. Mereka mematok harga karpet daur ulang mulai dari Rp1,5 juta sesuai ukuran pesanan. Selain karpet, mereka juga menawarkan busana luar ruang seharga Rp 550 ribu. Seluruh rancangan produk Nikisae Lurik senantiasa meminimalkan sisa bahan tekstil demi kelestarian alam.
Peluang Pasar Mancanegara dan Dampak Sosial
Strategi manufaktur hijau ini sukses memikat minat para pembeli internasional sepanjang gelaran pameran berlangsung. Nikisae Lurik sendiri telah mencatatkan rekam jejak ekspor ke berbagai negara seperti Jepang, Suriname, hingga Myanmar. Pencapaian ini membuktikan bahwa tenun tradisional sarat nilai etis mampu bersaing unggul di pasar mancanegara. Para pembeli luar negeri kian mengapresiasi produk yang mengedepankan aspek ramah lingkungan.
Kehadiran mereka dalam pameran internasional ini mengemban misi yang melampaui pencapaian transaksi finansial semata. Mereka terus berupaya memberdayakan masyarakat melalui proses produksi tenun yang etis. “Produk yang kita punya tidak cuma berdampak pada pelanggan, tetapi berdampak juga secara sosial,” pungkasnya.
Langkah inovatif ini memberikan inspirasi berharga bagi para pelaku wirausaha lokal di tanah air. Penggabungan nilai budaya, kepedulian lingkungan, dan pemberdayaan sosial terbukti membuka peluang komersial yang luas. Pendekatan sirkular bukan hanya melestarikan warisan tradisi, melainkan juga memperkuat daya saing bisnis pada pasar masa depan.
