Kabar

Dedi Mulyadi Tawarkan Solusi Ikan Sapu-sapu yang Efektif

Ilustrasi solusi ikan sapu-sapu untuk Stapo.id

Depok, Stapo.id – Solusi ikan sapu-sapu kini menjadi perhatian utama setelah populasi jenis invasif ini meledak di berbagai perairan Indonesia. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, memberikan pandangan kritis mengenai fenomena yang meresahkan masyarakat ini. Beliau menekankan bahwa masalah ini membutuhkan penanganan yang jauh lebih mendalam daripada sekadar menangkap ikan secara fisik.

Lonjakan populasi ini memang sangat mengkhawatirkan karena mengganggu keseimbangan ekosistem perairan kita. Sebagai contoh, petugas baru saja mengangkat hampir tujuh ton ikan dari sejumlah perairan di Jakarta. Operasi penertiban serentak tersebut berhasil mengumpulkan jumlah tangkapan yang sangat fantastis.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP) DKI Jakarta, Hasudungan A Sidabalok, memberikan konfirmasi resmi. “Hasil tangkapan ikan yang diperoleh mencapai 6,98 ton,” ujar Hasudungan. Angka ini menunjukkan betapa masifnya penyebaran ikan asal Amerika Selatan tersebut di sungai-sungai besar.

Dua Langkah Strategis Sebagai Solusi Ikan Sapu-sapu

Dedi Mulyadi menilai kemunculan ikan ini dalam jumlah besar merupakan sinyal buruk bagi lingkungan. Beliau berpendapat bahwa ikan sapu-sapu hanya mendominasi saat kualitas air sungai menurun drastis. Kondisi air yang buruk membuat ikan endemik atau asli daerah tersebut tidak mampu bertahan hidup.

“Sapu-sapu untuk seluruh daerah ya ambil saja, tangkap saja. Sapu-sapu itu tumbuh manakala sungainya sudah mengalami penurunan kualitas,” jelas Dedi saat berada di Gedung Pakuan. Beliau juga menambahkan bahwa ikan ini merupakan indikator pencemaran lingkungan yang nyata. “Jadi kalau sungainya mengalami penurunan kualitas, maka ikan yang hidup itu hanya sapu-sapu,” lanjutnya.

Oleh karena itu, beliau mengusulkan solusi ikan sapu-sapu melalui dua langkah yang saling terintegrasi. Langkah pertama adalah pengangkatan ikan secara massal dari sungai untuk mengurangi populasinya. Namun, langkah kedua jauh lebih krusial yaitu memperbaiki kualitas air sungai agar kembali sehat.

“Jadi kalau ingin menghilangkan sapu-sapu ada dua hal: pertama sapu-sapunya harus diangkat, kedua kualitas airnya harus diperbaiki agar ikan-ikan endemiknya hidup lagi,” tegas Dedi. Tanpa perbaikan kualitas air, ikan-ikan asli tidak akan pernah kembali menghuni habitat mereka.

Dampak Buruk Ikan Invasif Bagi Ekosistem Sungai

Ikan sapu-sapu memiliki karakteristik unik yang justru merugikan lingkungan sekitar. Mereka sering menggali lubang di tebing sungai untuk membuat sarang. Aktivitas ini memicu erosi dinding sungai dan mempercepat pendangkalan yang membahayakan warga sekitar.

Selain itu, tubuhnya yang keras dan sirip tajam sering merusak jaring nelayan tradisional. Hal ini tentu saja menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup besar bagi para pencari ikan. Masyarakat Jawa Barat sebenarnya sudah mulai berinisiatif mengambil ikan ini secara mandiri.

“Kalau selama ini juga sapu-sapu sudah diambilin oleh warga Jabar,” pungkas Dedi. Pemerintah berharap masyarakat terus mendukung upaya pemulihan sungai ini. Kesadaran untuk tidak membuang limbah ke sungai menjadi bagian penting dari keberhasilan rencana tersebut.