Bisnis

Riliv Targetkan Dukungan Kesehatan Mental Seluruh Rakyat Indonesia pada 2030

Ilustrasi simbol kesehatan mental dan teknologi digital yang merepresentasikan visi Riliv 2030.

Depok, Stapo.id – Co-Founder Riliv, Audi Christopher, memaparkan visi besar perusahaan dalam menjawab tantangan kesehatan mental di Indonesia dalam ajang Seedstars Villa Jakarta yang berlangsung di Habitate Jakarta, Rabu (29/4). Startup berbasis di Surabaya ini menyoroti kondisi serius di mana satu dari lima masyarakat Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, namun sekitar 90 persen di antaranya belum mendapatkan penanganan yang memadai. 

Dalam pemaparannya, Audi menjelaskan bahwa dampak dari permasalahan ini tidak hanya dirasakan secara individu, tetapi juga berdampak luas terhadap perekonomian nasional dengan estimasi kerugian mencapai 15 miliar dolar AS. Ia menilai akar persoalan terletak pada tingginya stigma serta pendekatan layanan yang masih bersifat reaktif, yaitu menunggu individu mencari bantuan ketika kondisi sudah memburuk.

Layanan Kesehatan Mental Berbasis Teknologi

Riliv hadir dengan pendekatan berbasis teknologi yang lebih proaktif melalui ekosistem layanan kesehatan mental yang terintegrasi. Platform ini menyediakan berbagai fitur mulai dari asesmen kondisi mental, modul perawatan mandiri, akses terapi dengan tenaga profesional, hingga dasbor khusus untuk organisasi. Melalui pendekatan ini, perusahaan ingin memastikan intervensi dapat dilakukan lebih awal sebelum kondisi pengguna memburuk.

Model Bisnis B2B dan Jangkauan Layanan

Model bisnis yang diusung Riliv berfokus pada skema Business-to-Business dengan menyasar perusahaan yang memiliki 10 hingga 10.000 karyawan, serta institusi pendidikan dari tingkat sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Dengan pendekatan ini, Riliv mendorong organisasi untuk lebih aktif dalam menjaga kesehatan mental karyawan maupun pelajar sebagai bagian dari produktivitas dan kesejahteraan jangka panjang.

Hingga saat ini, Riliv telah menjangkau sekitar satu juta pengguna di platform iOS dan Android serta menjalin kerja sama dengan lebih dari 3.100 organisasi. Sistem yang dikembangkan memungkinkan perusahaan untuk memantau kondisi kesehatan mental secara agregat tanpa melanggar privasi individu, sehingga tetap menjaga keseimbangan antara kepedulian dan kerahasiaan data.

Target Strategis Tahun 2030

Ke depan, Riliv menargetkan perluasan jangkauan yang signifikan dengan potensi pasar mencapai 60 juta karyawan dan 58 juta pelajar di Indonesia. Ambisi jangka panjang perusahaan adalah menghadirkan sistem pendukung kesehatan mental yang dapat diakses secara luas oleh masyarakat.

Audi menutup pemaparannya dengan visi besar yang ingin dicapai pada akhir dekade ini, yakni memastikan seluruh masyarakat Indonesia mendapatkan dukungan kesehatan mental yang layak melalui teknologi. Target tersebut menjadi bagian dari upaya membangun sistem kesehatan yang lebih inklusif dan berkelanjutan di tengah meningkatnya kesadaran akan pentingnya kesehatan mental.