Kabar

Efek Piala Dunia 2026, Putar Ekonomi Indonesia Rp5 Triliun

Ilustrasi perputaran ekonomi olahraga nasional

Depok, Stapo.id – Piala Dunia FIFA 2026 resmi berakhir setelah Spanyol mengalahkan Argentina dengan skor tipis 1-0 pada partai final yang digelar di Stadion New York-New Jersey, East Rutherford, Amerika Serikat, Minggu (19/7/2026) waktu setempat. Kemenangan tersebut mengantarkan La Furia Roja meraih gelar juara dunia kedua dalam sejarah sepak bola mereka setelah sebelumnya menjuarai Piala Dunia 2010.

Namun bagi Indonesia, berakhirnya turnamen sepak bola terbesar di dunia itu tidak hanya menyisakan euforia olahraga. Di balik jutaan masyarakat yang mengikuti pertandingan melalui siaran televisi dan ribuan kegiatan nonton bareng (nobar) di berbagai daerah, Piala Dunia 2026 juga menjadi salah satu penggerak ekonomi nasional.

Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia memperkirakan penyelenggaraan Piala Dunia FIFA 2026 menghasilkan perputaran ekonomi nasional lebih dari Rp5,03 triliun. Nilai tersebut berasal dari aktivitas ekonomi langsung maupun tidak langsung sejak masa persiapan hingga berakhirnya turnamen. Angka tersebut lebih tinggi dibanding proyeksi awal yang sebelumnya berada di kisaran Rp4 triliun.

Berdasarkan kajian KADIN, kontribusi ekonomi terbesar berasal dari belanja promosi dan iklan selama siaran pertandingan yang mencapai sekitar Rp1,76 triliun. Sementara kegiatan komersial di luar siaran, seperti festival, promosi merek, dan berbagai aktivasi sponsor, menyumbang sekitar Rp850 miliar.

Sektor yang menikmati dampak paling besar adalah hotel, restoran, kafe, serta usaha kuliner atau HOREKA dengan nilai ekonomi sekitar Rp2,4 triliun. Lonjakan tersebut dipicu meningkatnya aktivitas masyarakat yang menggelar nonton bareng di restoran, pusat perbelanjaan, ruang publik, balai kota, hingga berbagai lokasi yang difasilitasi pemerintah daerah maupun komunitas.

Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia Bidang Pemberdayaan Ekonomi Daerah Kukrit Suryo Wicaksono mengatakan Piala Dunia menjadi contoh bagaimana ajang olahraga internasional mampu menggerakkan aktivitas ekonomi lintas sektor.

Menurutnya, manfaat ekonomi tidak hanya dirasakan perusahaan besar dan pemegang hak siar, tetapi juga mengalir kepada pelaku UMKM, pedagang makanan dan minuman, industri kreatif, penyedia jasa, hotel, restoran, hingga kafe di berbagai daerah.

Besarnya aktivitas ekonomi tersebut juga didukung tingginya partisipasi masyarakat. Survei Lokadata terhadap 1.176 responden di sepuluh wilayah Indonesia menunjukkan 78,1 persen masyarakat mengikuti kegiatan nonton bareng setidaknya satu kali selama turnamen. Rata-rata pengeluaran mencapai sekitar Rp51 ribu setiap kali nobar, atau sekitar Rp145 ribu per orang selama penyelenggaraan Piala Dunia, yang sebagian besar dibelanjakan untuk makanan, minuman, paket data internet, serta kebutuhan pendukung lainnya.

Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian juga mendorong pemerintah daerah memanfaatkan momentum Piala Dunia 2026 dengan menggelar kegiatan nonton bareng resmi. Kebijakan tersebut tidak hanya bertujuan menghadirkan hiburan bagi masyarakat, tetapi juga membuka peluang usaha bagi UMKM lokal, pedagang kaki lima, pelaku ekonomi kreatif, hingga sektor pariwisata daerah.

Direktur Utama TVRI Fiki Satari menilai penyelenggaraan siaran gratis Piala Dunia tidak hanya memberikan akses tontonan kepada masyarakat, tetapi juga berhasil menciptakan ruang berkumpul yang mendorong aktivitas ekonomi di berbagai daerah. Kolaborasi antara TVRI, pemerintah pusat, pemerintah daerah, KADIN, komunitas, dan pelaku usaha dinilai menjadi faktor penting yang membuat manfaat ekonomi Piala Dunia dirasakan lebih luas.

Berakhirnya Piala Dunia 2026 sekaligus menunjukkan bahwa sebuah ajang olahraga global tidak hanya menghasilkan prestasi di lapangan hijau, tetapi juga mampu menjadi mesin pertumbuhan ekonomi. Dengan nilai perputaran lebih dari Rp5 triliun, turnamen yang ditutup dengan keberhasilan Spanyol menjadi juara dunia tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana olahraga dapat memberikan multiplier effect terhadap konsumsi masyarakat, sektor jasa, industri kreatif, serta perkembangan UMKM di Indonesia.