Pendanaan Startup Indonesia Capai Rp5,72 Triliun pada 2025

Depok, Stapo.id – Pendanaan startup di Indonesia sepanjang tahun 2025 tercatat menghadapi tantangan yang cukup besar bagi ekosistem digital nasional. Indonesia hanya menyerap dana investasi sebesar US$340 juta atau sekitar Rp5,72 triliun. Angka tersebut mencakup 6,3 persen dari total keseluruhan investasi di kawasan Asia Tenggara. Laporan Southeast Asia Startup Funding Report 2025 mengungkap data tersebut secara mendalam. DealStreetAsia merilis laporan ini untuk memetakan pergerakan modal pada tingkat regional.
Singapura tetap mendominasi pasar investasi startup di wilayah Asia Tenggara. Negara tersebut mencatat 283 transaksi dengan total nilai mencapai US$4,20 miliar. Jumlah itu setara dengan Rp70,75 triliun dalam perhitungan kurs saat ini. Posisi Indonesia berada jauh di bawah bayang-bayang dominasi negara tetangga tersebut. Para investor cenderung memusatkan modal mereka pada pasar yang memiliki stabilitas tinggi.
Dominasi Singapura dalam Ekosistem Regional
Indonesia mencatat 66 transaksi sepanjang periode tahun 2025 berlangsung. Namun nilai total pendanaan startup kita masih kalah tipis dari negara Vietnam. Vietnam membukukan dana sebesar US$0,36 miliar melalui 36 transaksi saja. Hal ini menunjukkan rata-rata nilai per transaksi di Indonesia masih terbatas. Kualitas pendanaan menjadi faktor penting dalam pertumbuhan ekonomi digital di masa depan.
Malaysia mengikuti pada posisi berikutnya dengan total 40 transaksi investasi. Mereka berhasil mengumpulkan modal senilai US$0,26 miliar atau sekitar Rp4,38 triliun. Sementara itu Filipina membukukan 23 transaksi dengan nilai sekitar US$0,12 miliar. Thailand dan Kamboja menempati posisi terbawah dalam daftar laporan pendanaan tersebut. Kesenjangan modal antar negara di Asia Tenggara masih terlihat sangat nyata.
Tren Pergeseran Modal Menuju Tahap Lanjut
Pemulihan transaksi pada paruh kedua 2025 bersumber dari sektor tahap lanjut. Investor lebih memilih menyuntikkan dana besar pada perusahaan yang sudah matang. Sebaliknya volume transaksi tahap awal justru mengalami penurunan secara bertahap. Kondisi ini menekan startup baru yang sedang merintis bisnis mereka. Distribusi modal menjadi tidak merata bagi para pengusaha pemula di tanah air.
Fenomena transaksi berukuran besar atau deal outliers mendongkrak angka keseluruhan investasi. Perusahaan infrastruktur teknologi menjadi primadona utama bagi para pemilik modal global. Sayangnya Indonesia belum melahirkan unicorn baru sepanjang periode tahun 2025 ini. Asia Tenggara sendiri melahirkan empat startup unicorn baru sepanjang tahun berjalan. Keempat perusahaan rintisan bernilai jumbo tersebut seluruhnya berbasis di Singapura.
Empat nama besar itu meliputi Ultragrn.ai, Synut, Thunes, serta Ashita Group. Mereka bergerak pada sektor teknologi hijau dan layanan pembayaran lintas negara. Sektor manufaktur dan perdagangan terintegrasi juga turut menyumbang pertumbuhan nilai perusahaan. Indonesia harus memperkuat daya saing agar investor kembali melirik pasar domestik. Inovasi teknologi tetap menjadi kunci utama dalam menarik minat para investor global.
