Pemanfaatan Limbah Cangkang Kerang Menjadi Produk Inovasi Greblox

Depok, Stapo.id – Limbah cangkang kerang kini menjelma menjadi produk bernilai ekonomi tinggi lewat tangan kreatif mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta (PNJ). Tim Eco-Pavers yang digawangi Bahrain dan Amanah Mutmainnah menciptakan Greblox sebagai solusi konkret masalah sampah pesisir. Inovasi paving block ramah lingkungan ini mendukung penerapan green accounting bagi industri di Jakarta Utara. Mahasiswa tersebut merespons kebijakan pemerintah mengenai laporan keberlanjutan perusahaan secara cerdas.
Ekosistem Bisnis Berbasis Limbah Cangkang Kerang
Proyek ini bermula dari pengamatan mendalam terhadap krisis lingkungan di Kampung Nelayan Muara Angke. Bahrain melihat tumpukan sampah sisa produksi kerang mencapai 500 kilogram setiap harinya. Tumpukan tersebut menutupi akses jalan serta merusak pemandangan di area pemukiman warga pesisir. Kondisi kumuh ini mendorong tim untuk mencari cara memanfaatkan kandungan kalsium karbonat pada limbah tersebut.
Tim Eco-Pavers kemudian menginisiasi pembentukan Komunitas Kerang Daya sebagai wadah produksi bagi warga lokal. Langkah ini terbukti efektif dalam meningkatkan penghasilan masyarakat melalui penjualan produk konstruksi berkelanjutan. Perusahaan pengolah hasil perikanan kini memiliki sarana untuk melaksanakan tanggung jawab sosial secara terukur. Harga produk inovasi ini pun tercatat 30 persen lebih murah daripada material konvensional.
Strategi pemasaran Greblox menyasar entitas bisnis yang memiliki kepedulian tinggi terhadap isu keberlanjutan. Melalui penggunaan material ini, citra Environmental, Social, and Governance (ESG) perusahaan akan meningkat secara signifikan. “Hadirnya Greblox dapat menjadi solusi penerapan Green Accounting bagi perusahaan-perusahaan tersebut,” ujar tim pengembang dalam penjelasannya. Pihak kampus berharap kolaborasi ini terus memperkuat ekonomi sirkular di wilayah Jakarta.
Dukungan Pemerintah Terhadap Inovasi Mahasiswa
Keberhasilan limbah cangkang kerang menjadi produk komersial tidak lepas dari dukungan berbagai instansi pemerintah. Kementerian Pertahanan hingga Kemendikbud Ristek turut memberikan pendanaan serta fasilitas penggunaan paving di infrastruktur publik. Sinergi lintas sektor ini memastikan produk inovasi mahasiswa dapat terserap oleh pasar dan industri. Penjualan produk saat ini telah menembus angka lebih dari Rp60 juta.
Selain aspek ekonomi, produk ini mampu menyerap air hujan jauh lebih cepat daripada paving biasa. Hal tersebut berkontribusi besar dalam menjaga kesehatan lingkungan serta mengurangi biaya pemeliharaan infrastruktur. Inovasi ini membuktikan bahwa riset dari bangku kuliah mampu menjawab tantangan nyata di masyarakat. Pemerintah perlu terus memfasilitasi ide kreatif mahasiswa agar memberikan sumbangsih nyata bagi pembangunan nasional.

