Migrasi Digital F&B ID dan Risiko Rp 30 Miliar Soal Retensi
![]() |
| Devin Widya Krisnadi dari F&B ID Kawan Lama Group (stapo.id) |
Depok, Stapo.id – Devin Widya Krisnadi dari F&B ID Kawan Lama Group mengungkap realitas keras di balik transformasi digital yang dijalankan perusahaannya, mulai dari potensi kehilangan pendapatan puluhan miliar rupiah hingga penurunan drastis jumlah anggota aktif selama dua tahun pertama. Hal itu ia sampaikan dalam sesi diskusi Reframing Technology From Expanse to Value di Fortune Indonesia Summit 2026 yang berlangsung di The Westin Jakarta pada 12 Februari 2026.
Devin menjelaskan bahwa sebelum migrasi sistem dilakukan, perusahaan menghadapi persoalan kontrol pada platform keanggotaan lama. Saat itu kartu member dijual sebagai produk khusus seharga Rp10.000 per paket dan menjadi salah satu sumber pemasukan. Namun ketika skala bisnis berkembang, manajemen dihadapkan pada keputusan strategis antara mempertahankan sistem lama atau menggantinya dengan aplikasi seluler baru yang lebih terintegrasi.
Keputusan tersebut bukan tanpa risiko. Devin mengungkap bahwa dengan basis sekitar tiga juta anggota lama, potensi pendapatan yang bisa hilang mencapai Rp 30 miliar. Ia menegaskan bahwa perusahaan memang harus siap menghadapi kehilangan pemasukan jangka pendek karena tidak semua pengguna bersedia langsung beralih ke platform baru. Dampaknya bahkan terasa signifikan setelah implementasi. Ia mengenang bahwa selama dua tahun pertama setelah aplikasi baru diluncurkan, hampir tidak ada anggota yang aktif menggunakan sistem tersebut.
Menurut Devin, pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting bahwa implementasi teknologi tidak cukup hanya dari sisi teknis, tetapi harus didukung komitmen penuh dari seluruh organisasi. Ia menekankan bahwa transformasi digital harus dijalankan secara menyeluruh dari tingkat manajemen hingga operasional agar adopsinya berhasil.
Karakter dan Perubahan Bisnis F&B di Indonesia
![]() |
| Devin Widya Krisnadi dari F&B ID Kawan Lama Group (arsip stapo.id) |
Dalam kesempatan yang sama, Devin juga menyoroti karakter industri makanan dan minuman di Indonesia yang sangat dinamis dan kompetitif. Ia menyebut bahwa penjualan awal sering kali menyesatkan jika tidak diikuti loyalitas pelanggan. Menurutnya, performa penjualan pada hari pertama atau bulan pertama tidak bisa dijadikan tolok ukur keberhasilan bisnis karena banyak konsumen hanya mencoba tanpa kembali lagi.
Ia menyebut penjualan sebagai ilusi apabila tidak diiringi pemahaman mendalam tentang perilaku pelanggan. Karena itu, investasi teknologi yang dilakukan perusahaan kini difokuskan pada analisis data konsumen untuk mengetahui alasan pelanggan tidak melakukan pembelian ulang. Dengan fondasi bisnis yang jelas dan dukungan platform digital yang tepat, ia meyakini teknologi dapat menjadi penguat strategi dan bukan sekadar kewajiban operasional.
Kini setelah melewati masa transisi yang sulit, sistem digital baru yang diterapkan F&B ID telah memungkinkan pelanggan bertransaksi lebih mudah di berbagai platform. Pengalaman tersebut menjadi contoh bahwa transformasi teknologi memang menuntut keberanian mengambil risiko, kesabaran menghadapi penurunan performa sementara, serta konsistensi strategi jangka panjang.
Melampaui “Lembah Kematian” Digital: Keberanian Kehilangan untuk Menang
Pemaparan Devin Widya Krisnadi di Fortune Indonesia Summit 2026 adalah sebuah realitas pahit yang jarang diungkap oleh para eksekutif saat bicara soal digitalisasi. Transformasi digital sering kali dipoles dengan narasi efisiensi instan, padahal dalam praktiknya, ada fase yang disebut “The Valley of Death” (Lembah Kematian)—sebuah periode transisi di mana biaya membengkak, pendapatan lama hilang, dan adopsi pengguna baru masih nol. Keputusan F&B ID untuk merelakan potensi pendapatan Rp30 miliar dari penjualan kartu fisik demi ekosistem aplikasi seluler adalah langkah cannibalization yang cerdas. Mereka memilih “membunuh” aliran uang jangka pendek yang manual demi membangun aset data jangka panjang yang jauh lebih bernilai.
Kejujuran Devin mengenai fase dua tahun pertama yang “sepi peminat” menunjukkan bahwa teknologi hanyalah alat, sementara adopsi perilaku adalah tantangan sesungguhnya. Di industri F&B yang sangat dinamis, kartu member fisik sering kali hanya menjadi sampah dompet, sedangkan aplikasi memungkinkan perusahaan melakukan push notification berbasis lokasi, personalisasi menu, hingga analisis churn rate (mengapa pelanggan tidak kembali). Strategi ini menggeser paradigma bisnis dari sekadar “jual putus” menjadi pengelolaan Customer Lifetime Value (CLV). F&B ID membuktikan bahwa transformasi digital yang sukses membutuhkan napas panjang dan dukungan penuh dari level manajemen tertinggi hingga kru di outlet.
Pelajaran bagi Ekosistem Bisnis
Bagi audiens bisnis dan pemilik startup, pengalaman Kawan Lama Group ini memberikan tiga pelajaran fundamental:
- Data Lebih Berharga daripada Cashflow Sesaat: Pendapatan Rp30 miliar dari kartu member mungkin terlihat besar, tetapi data perilaku dari 3 juta pengguna di dalam aplikasi memiliki nilai valuasi yang jauh lebih tinggi. Dengan data, perusahaan bisa melakukan efisiensi stok dan promosi yang tepat sasaran, yang dalam jangka panjang akan menghasilkan penghematan lebih dari Rp30 miliar.
- Menghindari “Ilusi Penjualan” (Sales Illusion): Devin sangat tepat saat menyebut penjualan awal bisa menyesatkan. Di Indonesia, fenomena hype makanan baru sangat tinggi, namun hanya sedikit yang bertahan. Bisnis yang sehat adalah bisnis yang mampu menjawab pertanyaan: “Mengapa pelanggan saya tidak kembali?” Teknologi harus digunakan untuk menjawab pertanyaan ini, bukan sekadar gaya-gayaan menggunakan AI atau aplikasi terbaru.
- Resistensi Pengguna adalah Wajar: Migrasi sistem selalu memicu resistensi. Kuncinya adalah konsistensi. Jika F&B ID menyerah di tahun pertama karena angka pengguna aktif rendah, mereka tidak akan pernah memiliki ekosistem digital yang kuat saat ini. Ini adalah pengingat bagi pelaku UKM agar tidak cepat menyerah saat investasi digital mereka belum membuahkan hasil dalam hitungan bulan.



