Bisnis

Lewat TEI 2026, BUMDes Kepulauan Yapen Bawa Kopi Ambaidiru dan Rumput Laut Kering ke Pasar Global

Ilustrasi Kopi Ambaidiru untuk Stapo.id

Sumber Gambar: Tampilan produk kemasan Kopi Ambaidiru organik dan Rumput Laut Kering produksi BUMDes Kampung Sarwandori serta Kampung Ambaidiru yang dipajang di meja stan Kabupaten Kepulauan Yapen dalam ajang Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 di ICE BSD City, Tangerang Selatan, Rabu (14/10). (Foto: Stapo.id)

Depok, Stapo.id – Kelompok Tekad Kepulauan Yapen memperkenalkan produk unggulan daerah pada pameran Trade Expo Indonesia ke-41 di ICE BSD City. Event berskala Internasional terselenggara mulai dari 14 Oktober hingga 18 Oktober 2026. Mereka menyajikan kopi Ambaidiru bersama komoditas rumput laut kering berkualitas tinggi. Ajang pameran internasional ini membuka peluang pasar baru bagi potensi hasil bumi Papua.

Produk olahan Badan Usaha Milik Desa Kampung Sarwandori dan Kampung Ambaidiru ini menarik perhatian pembeli. Pelaku usaha sengaja membawa komoditas mentah kering demi menjaga kualitas selama pengiriman jarak jauh. Langkah tersebut membuktikan kesiapan komoditas lokal saat menembus pasar nasional dan global.

Keunggulan Mutu Kopi Ambaidiru Asal Papua

Komoditas kopi Ambaidiru menghadirkan cita rasa khas pegunungan Papua yang tumbuh secara organik tanpa bahan kimia. Penjual memasarkan produk ini dalam bentuk bubuk seharga Rp75.000 per kemasan 350 gram. Sementara itu, biji kopi Ambaidiru kemasan satu kilogram memiliki harga berkisar antara Rp140.000 hingga Rp150.000.

Selain kopi, kelompok usaha ini mempromosikan rumput laut kering hasil budidaya selama 45 hari masa tanam. Pembudidaya membutuhkan waktu 25 hari untuk proses pembibitan sebelum memulai masa tanam produksi. Tahapan pengeringan berlangsung pada fasilitas penjemuran khusus demi menghasilkan mutu pangan terbaik.

Potensi Hilirisasi Komoditas Pesisir dan Pegunungan

Perwakilan narasumber memaparkan alur pengolahan rumput laut langsung dari lokasi budidaya. “Setelah proses tanam, rumput laut dipanen pada hari ke-45. Kemudian dijemur terlebih dahulu di rumah jemur khusus. Ini disebut rumput laut kering yang sudah siap dikonsumsi,” ujarnya. Petani menjual bahan tersebut seharga Rp10.000 sebelum pihak BUMDes memasarkannya senilai Rp25.000 per kilogram.

Komoditas pesisir ini sejatinya memiliki fleksibilitas tinggi untuk aneka olahan pangan seperti mi, stik, dan nugget. Namun, tim pameran tidak membawa produk turunan basah tersebut ke arena pameran dagang. “Produk olahannya tidak tahan lama karena alami tanpa bahan pengawet,” tambah narasumber tersebut.

Kehadiran dua komoditas Yapen ini mencerminkan kekuatan kolaborasi antara masyarakat desa dan BUMDes. Keputusan membawa produk kering berkualitas menjaga standar mutu alami hasil bumi Papua. Partisipasi aktif dalam pameran dagang memperkuat posisi produk lokal di rantai pasok komersial.

Disclaimer: Konten ini adalah materi iklan dari MGID. Stapo.id tidak terkait dengan materi iklan ini.