Bisnis

Kuasai Sektor B2B, PT Euroasiatic Jaya Sukses Pasang 700 Unit Mesin Gas Jenbacher di Indonesia

Ilustrasi mesin gas Jenbacher untuk Stapo.id

Sumber Gambar: Mengubah Limbah Organik Menjadi Cuan Listrik Mandiri Lewat Adopsi Mesin Biogas Jenbacher (arsip stapo.id)

Depok, Stapo.id – PT Euroasiatic Jaya memamerkan inovasi teknologi pembangkit ramah lingkungan pada ajang Electricity Connect di ICE BSD, Tangerang. Distributor resmi Jenbacher ini konsisten mendorong efisiensi daya bagi sektor industri nasional sejak tahun 1969. Kehadiran mesin gas Jenbacher menghadirkan solusi pasokan listrik mandiri yang tangguh berbasis bahan bakar terbarukan.

Perusahaan membidik pasar Business to Business seperti manufaktur, pertambangan, minyak dan gas, hingga instalasi pengolahan limbah. Limbah kelapa sawit dan tapioka kini menjadi sumber bahan bakar biogas yang sangat potensial bagi operasional pabrik. Langkah konversi limbah organik ini efektif memangkas jejak karbon pada rantai produksi industri.

Dominasi Pasar Mesin Gas Jenbacher dan Adopsi Biogas

Populasi unit pembangkit asal Austria ini mencatatkan pertumbuhan signifikan di berbagai penjuru tanah air. Rita Siringo Ringo dari PT Euroasiatic Jaya menegaskan komitmen perusahaan dalam mendukung dekarbonisasi industri melalui pemanfaatan energi terbarukan secara berkelanjutan.

“Unit kami sudah terpasang sekitar 700-an mesin di Indonesia, dan 300 di antaranya menggunakan bahan bakar biogas,” ujar Rita Siringo Ringo. Ia menambahkan bahwa teknologi mesin gas Jenbacher saat ini sudah siap memanfaatkan bahan bakar hidrogen demi mempercepat agenda transisi energi nasional.

Ragam Kapasitas Pembangkit untuk Sektor Industri

Pabrikan menyediakan variasi kapasitas listrik guna menyesuaikan kebutuhan operasional para pelaku usaha di Indonesia. Konsumen dapat memilih Tipe 2 berkapasitas 250-360 kWel, Tipe 3 berdaya 0,5-1,1 MWel, serta Tipe 4 yang menghasilkan 0,8-1,5 MWel. Selain itu, unit Tipe 6 berdaya hingga 4,5 MWel juga sudah melayani kebutuhan energi pelanggan di lapangan.

Kendati menawarkan banyak opsi daya, pasar domestik memperlihatkan preferensi yang jelas terhadap kapasitas menengah. Skala volume limbah industri lokal dinilai sangat serasi dengan kapasitas output model tersebut. “Tipe yang paling banyak dipakai di Indonesia adalah Tipe 3 yang kapasitasnya sekitar 1 megawatt,” tutur Rita.

Kesiapan teknologi mesin dalam mengolah biogas dan hidrogen menjadi bukti nyata kemajuan elektrifikasi hijau di sektor bisnis. Pemanfaatan limbah industri menjadi energi listrik bukan hanya menekan biaya operasional, melainkan juga memperkokoh daya saing industri berkelanjutan.

Disclaimer: Konten ini adalah materi iklan dari MGID. Stapo.id tidak terkait dengan materi iklan ini.