Kemitraan DAWA Hadirkan Angkringan Modern di Jabodetabek

Sumber Gambar: DAWA Minuman Rempah Hadir di D-8 Halal Expo Indonesia 2026 (arsip stapo.id)
Depok, Stapo.id – Program kemitraan DAWA kini membuka peluang usaha kuliner tradisional yang sangat menguntungkan. Peluang ini hadir melalui ekspansi mereka ke wilayah Jabodetabek dengan mengusung konsep angkringan modern khas Yogyakarta. Wahyu selaku perwakilan brand memperkenalkan potensi bisnis ini pada ajang D-8 Halal Expo Indonesia 2026. Pameran tersebut berlangsung di Tenis Indoor Senayan Jakarta pada hari Rabu (8/7).
Usaha rintisan asal Kaliurang Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ini menyajikan beragam varian menu kesehatan berkhasiat tinggi. Pelanggan dapat menikmati wedang uwuh, rempah original, hingga bir pletok original madu yang menyegarkan. Harga setiap produk juga sangat ramah kantong, mulai dari Rp10.000 hingga Rp18.000 saja.
Brand ini mengusung nama yang memiliki makna filosofis mendalam tentang kesehatan. “Jadi kenapa namanya mengambil Dowo untuk minuman rempah? Iya, artinya obat. Obat saja. Itu kan ada khasiatnya, Mas, di menu-menunya,” ujar Wahyu menjelaskan asal-usul nama tersebut.
Sejak memulai langkah pada tahun 2019, brand ini terus konsisten melestarikan minuman herbal. Kini mereka resmi menawarkan sistem waralaba sejak awal tahun 2025 untuk menjangkau pasar luas. Langkah ekspansi ini menyasar wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, hingga Bekasi.
Pilihan Investasi Kemitraan DAWA
Para investor dapat memilih sistem kemitraan DAWA yang sesuai dengan anggaran mereka. Paket pertama adalah Kemitraan Mandiri dengan nilai investasi sebesar Rp49 juta. Pilihan kedua berupa paket Auto Pilot untuk tiga outlet senilai Rp147 juta. Peminat dapat langsung menghubungi manajer kemitraan bernama Rio pada nomor 085172447270.
Prospek Cerah Bisnis Herbal
Wahyu sangat optimis bahwa bisnis minuman tradisional memiliki daya tahan yang sangat kuat. Produk herbal ini tidak akan mudah hilang oleh tren makanan musiman yang cepat redup. “Sebenarnya bangga memiliki usaha yang tidak termakan waktu, seperti contohnya jamu. Cuma memang belum ada yang serius mengelola jamu, Mas. Kami serius sama jamu,” tambah Wahyu penuh keyakinan.
Keseriusan mengelola potensi lokal secara profesional menjadi kunci sukses dalam memenangkan pasar modern. Langkah berani ini membuktikan bahwa jamu tradisional mampu naik kelas dan bersaing secara nasional. Melalui standarisasi yang baik, produk lokal tentu dapat menjadi pilihan utama masyarakat urban.

