Insight

Arlingga Panega: Keintiman Jadi Kunci Radio Bertahan di Era Digital

Arlingga Panega, Praktisi Media Spesialis Radio
Arlingga Panega, Praktisi Media Spesialis Radio

Depok, Stapo.id – Praktisi media senior, Arlingga Panega, membagikan perspektifnya mengenai relevansi radio di tengah pesatnya transformasi digital yang mengubah pola konsumsi media masyarakat. Dalam sebuah diskusi di kawasan Jakarta Pusat, Jumat (24/4), sosok yang akrab disapa Angga ini menegaskan bahwa meskipun radio menghadapi tekanan dari media sosial dan platform digital, medium ini masih memiliki tempat tersendiri di hati audiens.

Pengalaman Luas di Dunia Penyiaran

Dengan pengalaman lebih dari tiga dekade di industri penyiaran, termasuk pernah menjadi penyiar di Prambors pada periode 1994 hingga 2009, Cosmopolitan Radio pada 2009 hingga 2015, serta kiprahnya sebagai penyiar televisi ANTV pada 1996 hingga 1998, Angga memahami betul dinamika perubahan media. Ia juga dikenal sebagai Abang Jakarta 1998, yang menjadi bagian dari perjalanan kariernya di dunia komunikasi publik.

Tantangan dan Keunggulan Radio

Menurut Angga, tantangan terbesar radio saat ini datang dari media sosial yang telah mengambil alih peran sebagai penentu tren, baik dalam gaya hidup maupun musik. Namun, di balik perubahan tersebut, radio tetap memiliki keunggulan yang sulit tergantikan oleh platform lain.

“Mantra radio adalah satu-satunya media yang intim. Konsep media yang bisa menemani tanpa membebani, didengar sambil lalu, dan menjadi teman—seperti teman di perjalanan—itu hanya dimiliki radio yang intim dan dekat,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa keintiman menjadi kekuatan utama radio karena mampu menciptakan hubungan emosional dengan pendengar. Berbeda dengan televisi atau media sosial yang cenderung bersifat visual dan cepat, radio hadir sebagai medium yang personal, menyapa secara langsung, bahkan terasa seperti percakapan antara dua individu.

Evolusi dan Ketahanan Radio

Angga juga menyoroti perubahan signifikan dalam cara masyarakat mengakses radio. Ia mengakui bahwa penggunaan perangkat radio konvensional kini semakin menurun, baik di rumah maupun di kendaraan. Namun, hal tersebut tidak serta-merta menghilangkan eksistensi radio sebagai medium.

Menurutnya, esensi radio justru berevolusi ke dalam format yang lebih relevan dengan zaman, seperti podcast dan layanan streaming audio. Transformasi ini memungkinkan radio tetap hadir di tengah kebiasaan baru audiens yang lebih digital dan mobile.

Lebih jauh, Angga menilai bahwa radio masih memiliki keunggulan strategis dalam situasi darurat. Ia menyebut radio sebagai salah satu media paling tangguh yang mampu bertahan dalam kondisi krisis, termasuk ketika jaringan internet tidak dapat diakses.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa radio bukan sekadar medium hiburan, tetapi juga memiliki fungsi vital sebagai alat komunikasi yang dapat diandalkan dalam berbagai situasi, termasuk bencana atau gangguan infrastruktur teknologi.

Masa Depan Radio di Era Digital

Dalam perspektif kepemimpinan media, Angga melihat bahwa keberlangsungan radio sangat bergantung pada kemampuan para pelaku industri untuk mempertahankan nilai keintiman tersebut, sembari beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Radio yang mampu menggabungkan kedekatan emosional dengan inovasi digital dinilai akan tetap relevan dan diterima di pasar.

Di tengah gempuran era digital, radio mungkin tidak lagi menjadi media utama, tetapi bukan berarti kehilangan perannya. Justru, dengan kekuatan keintiman dan fleksibilitas format, radio memiliki peluang untuk terus bertahan dan berkembang sebagai medium yang personal dan adaptif.

 

Narasumber: Arlingga Panega 

Interviewer: Pradahlan Sindu Mardiko