Insight

Hukum Dasar Bisnis ala Coach Haryanto Kandani: Tak Ada Bisnis Tanpa Penjualan

Ilustrasi Kemampuan Menjual untuk Stapo.id

Sumber Gambar: Achievement Motivator sekaligus Sales & Leadership Coach, Haryanto Kandani, saat memaparkan urgensi penguasaan seni menjual dalam seminar bertajuk “There’s No Business Without Selling” pada IOITE 2026 di NICE PIK 2, Sabtu (10/10/2026). Dalam sesinya, ia menekankan pentingnya integrasi Pameran Fisik dan Otoritas Digital untuk Mengonversi Cold Market menjadi pelanggan loyal di Tengah Potensi Masif 280 juta populasi Indonesia. (Foto: Stapo.id)

Depok, Stapo.id – Pelaku usaha wajib menguasai kemampuan menjual sebagai fondasi utama sebelum mendirikan unit usaha. Motivator Penjualan dan Leadership Coach, Haryanto Kamdani, menyampaikan pandangan tersebut pada Indonesia Outing & Incentive Travel Expo (IOITE) 2026 di NICE PIK 2 (10/10). Ia menegaskan bahwa kelangsungan bisnis bertumpu langsung pada kelancaran transaksi dagang.

“There’s no business without selling. Tidak ada bisnis tanpa penjualan,” ujar Coach Haryanto di hadapan para peserta. Ia memandang bahwa setiap hal yang menyentuh panca indra manusia bermuara pada kesepakatan dagang. Pengalaman melatih bidang sales dan marketing selama 20 tahun membuktikan pentingnya penguasaan aktivitas dagang guna mempercepat pencapaian finansial.

Mengasah Kemampuan Menjual untuk Taklukkan Pasar

Populasi Indonesia yang mencapai 280 juta jiwa menyajikan peluang konsumen yang luar biasa luas. Pengusaha bahkan dapat mendulang hasil spektakuler kendati hanya menguasai ceruk pasar yang amat kecil. Kehadiran kemampuan menjual membantu pebisnis mengonversi potensi populasi tersebut menjadi transaksi nyata.

“Jika Anda mendapat 0,1% dari market Indonesia, itu 280.000 customer,” jelasnya menggambarkan luasnya peluang yang tersedia. Pebisnis perlu menyesuaikan volume target penjualan berdasarkan karakteristik produk yang mereka pasarkan. Era digital saat ini membuka akses pasar secara lebih leluasa bagi pelaku bisnis yang gigih.

Strategi Konversi Menghadapi Pasar Dingin

Tantangan utama pebisnis masa kini bermula ketika mereka berhadapan langsung dengan target audiens yang masih asing. Haryanto menyebut pameran fisik sebagai wahana strategis guna mencairkan pasar yang belum mengenal merek usaha. Interaksi tatap muka memungkinkan calon konsumen mencoba produk secara langsung sebelum memutuskan transaksi.

“Cara memenangkan cold market adalah melalui pameran. Dari tidak tahu menjadi tahu. Namun, jika sampai Anda melakukan transaksi hari ini, Anda menjadi hot market, yaitu orang yang sudah membeli produk atau menggunakan jasa Anda,” ujar Coach Haryanto di hadapan para peserta.

Ia mengibaratkan tahapan menjaring pembeli layaknya proses membangun komitmen menuju jenjang pernikahan. Hubungan pelanggan selalu bermula dari proses perkenalan sebelum memasuki tahap pendekatan yang lebih intensif. Pelaku usaha harus konsisten membangun reputasi digital agar calon pembeli senantiasa mengingat produk mereka.

“Kenalan itulah proses mengubah cold market menjadi warm market. Sebab, jika orang tidak tahu, mereka tidak akan beli. Tahu saja belum tentu beli, apalagi jika tidak tahu,” tegasnya.

Kemampuan menjual terbukti menjadi motor penggerak utama yang menjaga denyut keberlanjutan bisnis di berbagai sektor. Penguasaan seni konversi pasar memampukan pelaku usaha mengubah potensi pasar masif menjadi keuntungan konkret. Kolaborasi antara kehadiran pameran fisik dan otoritas digital memperkokoh daya tahan bisnis pada era modern.

Disclaimer: Konten ini adalah materi iklan dari MGID. Stapo.id tidak terkait dengan materi iklan ini.