Fokus Watersport, Strategi Senggigi Bangkit di Tengah Persaingan Destinasi

Lombok, Stapo.id – Kawasan Pantai Senggigi terus berbenah untuk mengembalikan daya tariknya di tengah ketatnya persaingan destinasi wisata di Nusa Tenggara Barat. Kini, pengelola memfokuskan pengembangan pada sektor watersport sebagai strategi utama untuk memperkuat positioning Senggigi di mata wisatawan domestik maupun mancanegara.
Pengelola Pantai Senggigi sekaligus pengurus watersport, Ismed, mengungkapkan bahwa langkah pemulihan dilakukan melalui pemetaan zonasi wisata di Pulau Lombok. Strategi ini bertujuan untuk menciptakan diferensiasi yang jelas antar destinasi, sehingga masing-masing wilayah memiliki keunggulan yang spesifik dan tidak saling tumpang tindih.
Strategi Zonasi Wisata
Menurutnya, Senggigi pernah menjadi ikon utama pariwisata Lombok sebelum destinasi lain berkembang pesat. Kini, peran tersebut mulai dibagi secara strategis, di mana Lombok Utara difokuskan pada aktivitas snorkeling dan diving, sementara Lombok Tengah dikenal sebagai pusat selancar dan event internasional seperti MotoGP Mandalika. Senggigi sendiri diarahkan sebagai pusat aktivitas watersport sekaligus kawasan pendukung sektor perikanan.
Dari sisi aksesibilitas, Senggigi masih mempertahankan keunggulan sebagai destinasi yang ramah wisatawan. Pengunjung tidak dikenakan biaya tiket masuk untuk menikmati kawasan pantai. Namun, berbagai aktivitas berbayar tersedia bagi wisatawan yang ingin merasakan pengalaman berbeda, terutama olahraga air yang memacu adrenalin.
Layanan dan Fasilitas Watersport
Salah satu layanan unggulan adalah penyewaan jetski dengan tarif mulai dari Rp400.000 untuk durasi 15 menit hingga Rp1.400.000 untuk penggunaan selama satu jam. Selain itu, tersedia juga wahana banana boat dengan tarif sekitar Rp100.000 per orang, dengan minimal empat peserta dalam satu sesi. Pengelola turut menyediakan berbagai paket perjalanan, mulai dari trip pendek hingga perjalanan jarak jauh yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan wisatawan.
Tren kunjungan ke Senggigi menunjukkan pola musiman yang cukup kuat. Periode Juli dan Agustus menjadi puncak kunjungan wisatawan atau high season, sementara akhir pekan tetap menjadi momentum ramai pada hari-hari biasa. Hal ini menjadi peluang bagi pelaku usaha lokal untuk mengoptimalkan layanan sekaligus meningkatkan kualitas pengalaman wisata.
Di tengah meningkatnya jumlah penyedia jasa watersport, Ismed menekankan pentingnya kepatuhan terhadap regulasi dan kelengkapan izin operasional. Standar keamanan menjadi aspek krusial yang tidak boleh diabaikan, mengingat aktivitas watersport memiliki risiko tinggi jika tidak dikelola secara profesional.
Dengan strategi yang lebih terarah dan fokus pada kekuatan utama, Pantai Senggigi diharapkan mampu kembali menjadi salah satu motor penggerak pariwisata di Lombok Barat. Penguatan sektor watersport tidak hanya menjadi upaya pemulihan citra, tetapi juga langkah konkret dalam menciptakan ekosistem pariwisata yang berkelanjutan dan kompetitif.
