Upaya Kementan dan TNI Genjot Produksi Kedelai Indonesia Guna Capai Swasembada

Sumber Gambar: Pexels/MOROCCAN PHOTOGRAPHER
Depok, Stapo.id – Kementerian Pertanian (Kementan) memperkuat kolaborasi lintas sektor bersama TNI Angkatan Laut dan Pemerintah Kabupaten Nganjuk untuk mempercepat peningkatan produksi kedelai Indonesia. Langkah strategis ini diambil guna mengurangi ketergantungan impor yang saat ini masih mendominasi sekitar 95 persen dari total kebutuhan nasional. Komitmen tersebut dipertegas melalui kegiatan panen raya kedelai di Kabupaten Nganjuk yang dihadiri langsung oleh Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto, dan Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto pada Kamis (15/5/2026).
Kemandirian Pangan Melalui Kedelai Lokal
Mentan Amran menegaskan bahwa kedelai adalah komoditas strategis nasional karena menjadi bahan baku utama pangan rakyat seperti tahu dan tempe. Menurutnya, Indonesia harus segera membangun kemandirian produksi agar tidak terus bergantung pada pasokan luar negeri yang mencapai 2,6 juta ton per tahun. Dengan potensi lahan yang luas dan ketersediaan teknologi, pemerintah optimis bahwa produksi dalam negeri dapat ditingkatkan secara signifikan dimulai dari daerah produktif seperti Jawa Timur.
Dukungan Benih Unggul dan Kepastian Harga
Untuk mendorong semangat petani dalam meningkatkan produksi kedelai Indonesia, Kementan menyalurkan bantuan benih bersertifikat varietas Grobogan serta alat mesin pertanian berupa puluhan unit traktor. Selain itu, pemerintah berencana mendorong penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) kedelai di kisaran Rp13.500 per kilogram. Langkah ini bertujuan agar petani mendapatkan keuntungan yang layak, mengingat selama ini harga di tingkat petani masih rendah dan kurang kompetitif dibandingkan komoditas lainnya.
Kerja sama dengan Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) juga telah dijalin untuk memberikan jaminan pasar bagi hasil panen petani. Sementara itu, keterlibatan TNI dalam pengembangan kawasan kedelai seluas 2.300 hektare di Nganjuk diharapkan menjadi model gerakan nyata yang dapat direplikasi di berbagai wilayah Indonesia lainnya. Dengan produktivitas di Nganjuk yang mencapai 2,2 ton per hektare, target swasembada kedelai nasional pun kini terasa semakin realistis untuk dicapai demi kedaulatan pangan nasional.
