Insight

Paradoks Desain Kemasan: Memikat 70% Konsumen, Menyumbang 20% Sampah

Ilustrasi desain kemasan untuk Stapo.id

Sumber Gambar: Dinni Septianingrum Memberi Kuliah Umum dan Perspektif Desain Kemasan di Auditorium Perpustakaan PNJ (arsip stapo.id)

Depok, Stapo.id – Pendiri sekaligus COO Seasoldier Foundation, Dinni Septianingrum, S.E, M.Si., menekankan pentingnya desain kemasan dalam bisnis. Langkah strategis ini mampu menentukan nilai jual dan daya tarik produk secara signifikan. Dinni menyampaikan gagasan tersebut dalam acara Design Odyssey di Politeknik Negeri Jakarta pada Selasa (1/9/). Ia membagikan pandangan inspiratifnya di hadapan para mahasiswa dan pelaku industri kreatif.

Pentingnya Sentuhan Kreatif pada Produk

Tampilan luar sebuah produk sangat mempengaruhi keputusan belanja para konsumen saat ini. Riset membuktikan bahwa kemasan menarik mampu mempengaruhi lebih dari 70 persen keputusan pembelian pelanggan. Selain itu, sekitar 66 persen konsumen bersedia mencoba produk baru karena terpikat tampilan luarnya. Fenomena tren unboxing di media sosial juga turut memperkuat kebutuhan estetika visual ini.

Dinni memberikan contoh nyata mengenai peningkatan nilai jual barang lewat kemasan menarik. “Jadi, contohnya seperti pisang goreng. Ketika bungkusnya hanya plastik biasa, nilainya pasti akan berbeda dibandingkan jika kemasannya lebih eksklusif, walaupun isinya sama. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya sebuah kemasan,” tuturnya secara langsung. Sentuhan desain kemasan yang tepat berpotensi menaikkan omzet bisnis hingga 30 persen.

Tantangan Ekologis dalam Desain Kemasan

Namun, pelaku industri juga wajib memperhatikan dampak buruk sampah terhadap kelestarian lingkungan global. Berdasarkan data nasional, sampah wadah pembungkus menyumbang sekitar 20 persen dari total timbulan sampah. Dinni memperingatkan bahwa aturan pengelolaan limbah kini berjalan semakin ketat bagi sektor bisnis. “Apakah ini akan berpengaruh terhadap dunia bisnis atau produksi yang menggunakan kemasan? Tentu saja iya, karena aturannya sudah ada dan sudah mulai diberlakukan,” jelasnya.

Kondisi bumi saat ini sedang mengalami tekanan berat akibat lonjakan populasi manusia yang masif. Dinni mengingatkan audiens bahwa daya tampung bumi kini sudah melampaui batas ideal ekosistem. “Kalian tahu tidak, secara idealnya bumi dengan segala isinya itu hanya mampu menampung sekitar 1,5 miliar manusia. Berarti kita sudah kelebihan sekitar 6 miliar lebih,” ungkap Dinni. Pertumbuhan populasi dunia yang mencapai 8,2 miliar jiwa mempercepat laju kerusakan alam.

Pemerintah Indonesia sendiri telah memperketat regulasi lingkungan demi mengendalikan timbulan sampah plastik. Aturan tersebut mencakup Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 serta PP Nomor 27 Tahun 2020. Oleh karena itu, para desainer harus beralih menggunakan material ramah lingkungan. Langkah strategis ini akan menyelamatkan ekosistem laut dari ancaman polusi plastik yang merusak. “Kita semua pasti senang melihat kemasan yang bagus saat berbelanja di toko,” pungkasnya.

Inovasi desain kemasan berkelanjutan kini menjadi kunci penting untuk menyelaraskan keuntungan bisnis dan kelestarian alam. Pengusaha tidak hanya mengejar aspek estetika semata, tetapi juga wajib memikirkan siklus hidup material pembungkus. Melalui komitmen hijau ini, pelaku usaha dapat meningkatkan omzet sekaligus menjaga bumi tetap lestari.