Tech

Lewat Tungku Regeneratif, PT Sumi Win Mukti (SWM) Pangkas Konsumsi Gas Bumi dan Dorong Ekonomi Sirkular

Ilustrasi Daur Ulang Aluminium untuk Stapo.id

Sumber Gambar: Deretan produk aluminium batangan termasuk varian UBC Ingot dan Ingot A356 hasil olahan daur ulang PT Sumi Win Mukti (SWM) dipajang pada ajang pameran Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 di ICE BSD City, Tangerang Selatan. (Foto: stapo.id)

Depok, Stapo.id – PT Sumi Win Mukti (SWM) memperkenalkan inovasi daur ulang aluminium pada pameran Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 di ICE BSD City. Fasilitas manufaktur asal Karawang ini mengolah limbah logam menjadi produk bernilai ekonomi tinggi. Langkah strategis ini memperkuat komitmen industri nasional dalam mewujudkan ekosistem produksi minim emisi.

Perusahaan mengandalkan mesin tungku regeneratif atau regenerative furnace sebagai pilar utama peleburan logam. Teknologi mutakhir tersebut menjaga stabilitas temperatur panas dan efisiensi energi secara konsisten. Sistem pembakaran ini menyerap kembali gas sisa buang operasional untuk memanaskan udara pembakaran awal.

Agnes selaku perwakilan PT Sumi Win Mukti (SWM) menjelaskan bahwa peleburan material mentah membutuhkan waktu sekitar 12 jam. Durasi panjang tersebut memastikan seluruh unsur logam mencair secara optimal sebelum proses pencetakan. “Biasanya 12 jam. Jadi 12 jam, seperti kita merebus daging. Semakin lama direbus, semakin empuk. Ini juga sama, semakin cair keseluruhannya, hasilnya lebih baik karena kita juga harus mengaduk,” ujar Agnes.

Efisiensi Tungku Regeneratif dalam Daur Ulang Aluminium

Pabrik memperoleh pasokan bahan mentah melalui jaringan mitra pengepul sampah kaleng dan limbah logam bekas. Operator kemudian memadukan material tersebut dengan formula silikon dan tembaga untuk menjaga standar kekuatan hasil olahan. Penerapan daur ulang aluminium ini berhasil memangkas konsumsi gas bumi secara signifikan di fasilitas produksi.

Inovasi teknologi pemulihan panas sisa buang tersebut mempercepat waktu lebur serta meningkatkan efisiensi termal pabrik. Selain itu, perusahaan terus berupaya memperluas jaringan pasokan bahan baku dari berbagai sektor industri perkotaan. SWM juga menjaga konsistensi mutu aluminium ingot agar selalu memenuhi standar pasar global.

Komitmen Target Can to Can dan Agenda SDGs

Kini SWM fokus menggarap ekosistem pengolahan sampah kaleng minuman bekas atau Universal Beverage Can. Agnes memaparkan target ambisius perusahaan untuk merealisasikan konsep can-to-can secara menyeluruh pada 2027 atau 2028. Melalui sistem tertutup ini, pabrik akan memproses kaleng minuman bekas menjadi kemasan kaleng baru secara utuh.

Langkah industri ramah lingkungan ini selaras dengan agenda pembangunan berkelanjutan global dari pemerintah. “Kami membantu pemerintah untuk ekonomi sirkuler. Ini masuk ke SDGs nomor 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), dan 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan) , yaitu circular economy,” pungkas Agnes. Upaya terpadu ini membuka lapangan kerja baru bagi jaringan pengepul sekaligus menekan timbulan sampah kota.

Langkah progresif SWM membuktikan bahwa penerapan daur ulang aluminium sanggup menyatukan kepentingan profitabilitas bisnis dengan kelestarian alam. Keberanian pelaku industri menanamkan modal pada teknologi hemat energi menjadi teladan berharga bagi sektor manufaktur lokal. Transformasi hijau ini menjadi kunci penting demi mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang tangguh dan berkelanjutan.

Disclaimer: Konten ini adalah materi iklan dari MGID. Stapo.id tidak terkait dengan materi iklan ini.