Bisnis

Lewat TEI ke-41, Bandhawa Jaya Agrikultura (BJA) Andalkan Kopi Fermentasi Rasa Buah untuk Perluas Pasar Ekspor

Ilustrasi Kopi Specialty untuk Stapo.id

Sumber Gambar: Tampilan kemasan karung distribusi besar dan contoh produk biji kopi specialty milik PT Bandhawa Jaya Agrikultura (BJA) asal Kabupaten Bekasi yang dipajang dalam Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 di ICE BSD City, Tangerang Selatan. (Foto: Stapo.id)

Depok, Stapo.id – PT Bandhawa Jaya Agrikultura (BJA) menampilkan beragam varietas biji kopi unggulan dalam Trade Expo Indonesia ke-41 di ICE BSD City (14-18/10). Perusahaan agrikultur asal Bekasi ini membawa produk premium seperti Liberika Mosto, Tobakul, hingga Arabika Gayo. Lewat pameran dagang tahunan tersebut, produsen kopi specialty ini memperkuat eksistensi produk lokal ke pasar internasional.

Minat pasar global terhadap komoditas pertanian Indonesia terus menunjukkan tren peningkatan yang sangat positif. Hingga saat ini, ekspor perusahaan telah menjangkau Arab Saudi, Lebanon, Malaysia, Afrika Selatan, Korea Selatan, Rusia, Qatar, Irak, hingga India. Kawasan Timur Tengah, terutama Uni Emirat Arab, menyimpan potensi besar karena tingginya ketergantungan terhadap impor komoditas pangan.

Partisipasi dalam pameran internasional membuka peluang besar bagi para pelaku usaha kecil dan menengah nasional. Eva Rifda, perwakilan PT Bandhawa Jaya Agrikultura, menilai ajang ekspo mampu mempertemukan produsen lokal dengan para pembeli mancanegara. “Expo ini membuat UMKM punya potensi untuk ekspor karena kita mempromosikan produk-produk Indonesia. Kebutuhan impor di beberapa negara luar cukup tinggi,” ujar Eva Rifda saat memberikan keterangan di area pameran.

Pengembangan Ragam Kopi Specialty Unggulan

Sejak berdiri pada 2015, perusahaan aktif mengelola rantai pasok kopi dari hulu hingga hilir secara konsisten. Mereka membina para petani lokal di berbagai sentra perkebunan seperti Sumatra, Jawa, Bali, Flores, hingga Papua. Pendekatan terpadu ini menjamin pasokan biji kopi hijau berkualitas tinggi dengan kapasitas produksi 400 hingga 500 ton per tahun.

Perusahaan menawarkan aneka metode pengolahan mulai dari washed, honey, natural, hingga teknik eksperimental. Kehadiran varian kopi specialty melengkapi portofolio produk untuk memenuhi preferensi konsumen modern yang kian spesifik. Di pasar domestik, harga biji sangrai house blend mulai Rp185 ribu, sedangkan varian specialty mulai Rp200 ribu.

Inovasi Fermentasi Menembus Pasar Global

Guna meningkatkan nilai tambah komoditas, perusahaan saat ini giat meracik varian rasa buah yang unik. Inovasi proses pengolahan tersebut melibatkan teknik fermentasi khusus untuk menghasilkan sensasi aroma semangka serta nanas segar. Langkah kreatif ini memperkuat posisi tawar produk perkebunan Indonesia di segmen pasar premium.

“Hal ini karena prosesnya berbeda-beda, Pak. Ada yang rasanya seperti wine. Sekarang kami sedang menyiapkan proses infus; biji kopi disemprot cairan infus lalu difermentasi sehingga menghasilkan aroma semangka atau nanas,” pungkas Eva. Teknik pengolahan bernilai tambah tinggi tersebut membuktikan kapasitas produsen lokal dalam merespons selera pasar global yang dinamis.

Keberhasilan penetrasi ekspor komoditas biji kopi menunjukkan bahwa kualitas perkebunan Indonesia berdaya saing tinggi. Kolaborasi pembinaan petani serta inovasi fermentasi menjadi kunci utama dalam memenangkan persaingan dagang internasional. Langkah strategis ini mempertegas peran penting UMKM agrikultur dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan.

Disclaimer: Konten ini adalah materi iklan dari MGID. Stapo.id tidak terkait dengan materi iklan ini.