Insight

Geser Pola Pikir Personality: Mengapa Evaluasi Peran ‘Parada’ Jauh Lebih Objektif di Kantor?

Ilustrasi Karakter Tim untuk Stapo.id

Sumber Gambar: Pendekatan Evaluasi Peran: CEO Mitologi Inspira sekaligus Connection Coach, Dedy Dahlan, saat mengenalkan Metode Evaluasi Peran ‘Parada’ dalam Indonesia Outdoor Lifestyle Experience (IOITE) 2026 di NICE PIK 2, Kamis (8/10). Langkah adaptif ini ditujukan untuk Mengoptimalkan Penempatan posisi Karyawan Berdasarkan Cara Kerja Objek tanpa Pelabelan Psikologis yang Kaku. (Foto: Stapo.id)

Depok, Stapo.id – Pimpinan perusahaan perlu mengenali potensi setiap individu guna membangun kolaborasi yang solid. CEO Mitologi Inspira sekaligus Connection Coach, Dedy Dahlan, menyampaikan pandangan tersebut dalam gelaran IOITE 2026 di NICE PIK 2. Ia menegaskan bahwa pemahaman mendalam terhadap karakter tim mampu meminimalisasi konflik internal di lingkungan kantor. Kesadaran akan perbedaan gaya kerja juga membantu para profesional mencapai efektivitas kerja harian.

Banyak orang masih menganggap instrumen psikologi seperti MBTI serupa dengan ramalan bintang. Padahal, alat asesmen ini berfungsi memetakan potensi risiko dan tantangan komunikasi kerja. “Tujuannya bukan untuk mengotak-ngotakkan atau melabeli seseorang,” ujar Dedy Dahlan saat menjelaskan esensi asesmen tersebut. Perbedaan preferensi komunikasi sering memicu gesekan jika rekan kerja gagal saling memahami.

Penempatan Posisi Sesuai Karakter Tim

Manajemen yang cerdas menempatkan karyawan sesuai karakter tim demi menjaga stamina mental pekerja. Langkah strategis ini mencegah tim mengalami kelelahan ekstrem akibat beban peran yang keliru. “Pertanyaannya adalah bukankah lebih baik menempatkan mereka di posisi yang nyaman agar mereka bisa berkembang lebih cepat? Itulah konsep di baliknya,” ungkap Dedy Dahlan. Penyelarasan peran tersebut membuat individu menyalurkan energi secara jauh lebih efisien.

Dedy Dahlan juga mengingatkan bahaya menilai atau menebak tipe kepribadian rekan kerja secara terburu-buru. Penilaian tanpa instrumen valid dapat menciptakan stereotip negatif yang merugikan iklim organisasi. “Kadang-kadang bisa, tapi saya lebih memilih tidak melakukan itu karena itu menghakimi orang,” tegas Dedy Dahlan. Praktik melabeli orang secara subjektif hanya akan menutup ruang dialog yang konstruktif.

Fokus pada Peran dan Situasi Kerja

Tekanan mental atau keinginan subjektif terkadang memengaruhi hasil tes asesmen seorang pekerja. “Bisa jadi kita sedang mendeteksi sesuatu yang bukan jati diri kita, atau sedang tidak menggunakan sisi ekstrovert-nya. Atau ada stresor yang sedang dialami, atau bisa jadi ada keinginan untuk menjadi seperti itu sehingga mengisinya lebih ke arah keinginan,” papar Dedy Dahlan. Oleh karena itu, ia mengembangkan pendekatan evaluasi peran bernama Parada untuk dunia profesional.

Pendekatan evaluasi ini menyoroti kontribusi nyata pekerja ketimbang sekadar label kepribadian abstrak. “Parada itu adalah sebutan kita karena bukan personality, tapi lebih ke peran. Kita bukan menggambarkan siapa kamu, tapi lebih ke bagaimana cara kerja kamu dan situasi apa yang kamu nikmati,” pungkas Dedy Dahlan. Skema ini membantu organisasi membaca dinamika karakter tim secara lebih objektif dan praktis.

Pendekatan berbasis peran membuktikan bahwa kesuksesan bisnis bertumpu pada manajemen talenta yang empatik dan presisi. Para pelaku usaha kini perlu menggeser pola pikir dari sekadar menuntut hasil menjadi fasilitator pertumbuhan karyawan. Langkah adaptif ini tidak hanya mendongkrak produktivitas, tetapi juga merawat keterikatan jangka panjang seluruh anggota tim.

Disclaimer: Konten ini adalah materi iklan dari MGID. Stapo.id tidak terkait dengan materi iklan ini.