Farsha Bila: Perempuan, Kolaborasi, dan Kepemimpinan di Era Modern

Pradahlan Sindu Mardiko - Penulis
daftar webinar fundhub

 

Farsha Bila Berbagi Pandangan Tentang Hari Wanita Internasional (arsip stapo.id)


Depok, Stapo.id - Setiap tanggal 8 Maret, dunia memperingati Hari Perempuan Internasional sebagai momentum untuk merayakan peran, kontribusi, dan potensi perempuan dalam berbagai bidang kehidupan. Di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi yang semakin cepat, perempuan masa kini tidak hanya hadir sebagai bagian dari ekosistem kerja dan bisnis, tetapi juga sebagai pemimpin, inovator, serta agen perubahan yang membawa perspektif baru dalam berbagai sektor.

Salah satu sosok yang membagikan pandangannya mengenai peran perempuan di era modern adalah Farsha Bila. Ia memperkenalkan dirinya sebagai perempuan dengan latar belakang keluarga Jawa dan Kalimantan yang memiliki ketertarikan untuk terus mempelajari kedua budaya tersebut. Ketertarikan pada pengetahuan dan eksplorasi budaya menjadi salah satu cara Farsha memperkaya perspektifnya dalam kehidupan maupun karier.

Secara akademik, Farsha memiliki latar belakang pendidikan di bidang Teknik Elektro dan Manajemen Pemasaran. Namun, ia tidak berhenti pada pendidikan formal saja. Ia aktif mengikuti berbagai kursus tambahan yang mendukung pengembangan diri, mulai dari kepenulisan, public speaking, cyber risk management strategies, hingga penguatan soft skills. Kegemarannya dalam menulis juga telah melahirkan sejumlah karya, di antaranya buku berjudul Lembah Kucing dan Permen Kebahagiaan, serta zine atau majalah independen Oh Imaginathor.

Saat ini Farsha berkarier secara profesional sebagai Lead Divisi Technical Writer di sebuah perusahaan konsultan keamanan siber. Dalam perannya tersebut, ia bertanggung jawab mengkomunikasikan berbagai strategi dan praktik terbaik dalam menjaga keamanan informasi, termasuk perlindungan data pribadi di dunia digital. Bidang Cybersecurity sendiri semakin penting di era digital karena berbagai aktivitas masyarakat kini banyak berlangsung secara online. Selain menjalani karier profesional, Farsha juga mulai berinvestasi secara mikro pada usaha di sektor makanan dan minuman.

Cara Adaptasi dan Kolaboratif Dimata Farsha



Dalam pandangannya, diskusi mengenai perempuan yang “bersaing” dengan laki-laki sebaiknya dilihat dari perspektif yang lebih luas. Ia lebih memilih menggunakan istilah kolaborasi daripada kompetisi. Menurutnya, perempuan dan laki-laki memiliki keunggulan masing-masing yang dapat saling melengkapi ketika bekerja bersama. Dengan pendekatan kolaboratif, setiap individu dapat memaksimalkan potensi tanpa harus terjebak dalam perbandingan berbasis gender.

Untuk dapat bertahan dan berkembang di tengah dinamika karier maupun dunia bisnis yang kompetitif, Farsha menekankan pentingnya rasa ingin tahu dan keterbukaan terhadap hal-hal baru. Ia berusaha untuk terus belajar, tidak hanya dari aspek teknis pekerjaan tetapi juga dari pengalaman bertemu dengan berbagai orang dan lingkungan baru. Dari setiap pengalaman tersebut, ia mencoba mengambil insight yang sejalan dengan nilai-nilai pribadinya, lalu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Ia juga menilai bahwa perbedaan karakter antar generasi turut memengaruhi cara seseorang menjalani karier. Generasi Baby Boomer dan Generasi X, misalnya, lebih terbiasa dengan komunikasi tatap muka karena tumbuh di era sebelum teknologi digital berkembang pesat. Sementara itu Generasi milenial dan Generasi Z sudah akrab dengan teknologi sejak usia muda sehingga lebih terbiasa dengan komunikasi daring dan kerja yang fleksibel. Menurut Farsha, kedua pendekatan tersebut sebenarnya saling melengkapi karena interaksi langsung dapat memperkuat hubungan personal, sementara teknologi memungkinkan respons yang lebih cepat dan efisien.

Jiwa Kepemimpinan Wanita Tidak Kalah Dengan Pria



Dalam hal kepemimpinan, Farsha percaya bahwa kemampuan memimpin tidak ditentukan oleh gender, melainkan oleh keterampilan dan integritas seseorang. Karena itu, perempuan tetap memiliki peluang besar untuk memegang peran kepemimpinan di masa depan selama mereka memiliki kompetensi, visi, dan komitmen yang kuat.

Ia juga membagikan pandangan mengenai pentingnya menjaga kualitas relasi. Seiring bertambahnya usia, jumlah teman dekat mungkin berkurang, namun jenis relasi yang dimiliki justru semakin beragam, mulai dari rekan kerja, mitra bisnis, hingga teman yang memiliki kesamaan hobi. Setiap relasi memiliki peran dan nilai tersendiri dalam perjalanan hidup seseorang.

Arti Woman International Day Bagi Farsha

Dalam momentum Hari Perempuan Internasional tahun ini, Farsha menyampaikan pesan bahwa perempuan memiliki kekuatan yang sering kali hadir dalam bentuk yang lembut, namun tetap berdampak besar. Ia berharap setiap perempuan dapat mengenali kekuatan dan potensi yang dimiliki, lalu menggunakannya secara bijak untuk memberikan kontribusi positif bagi diri sendiri dan lingkungan sekitar.

Bagi Farsha, perayaan Hari Perempuan Internasional dapat dirangkum dalam tiga kata sederhana yang mencerminkan nilai yang ia yakini: femininity, grace, dan beauty from within.


Interviewer : Pradahlan Sindu Mardiko 

Narasumber: Farsha Bila

daftar webinar fundhub

Bottom Ad [Post Page]

Kabar

Event

Bisnis

Memuat berita Bisnis...

Insight

Invest

Otomotif

Tech