Xquisite AI: Akses Data Sulit Hambat UKM/UMKM, AI Jadi Kunci Data Intelligence
![]() |
| Galih Permadi dari Xquisite AI |
Depok, Stapo.id – Kompleksitas adopsi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence masih menjadi penghambat utama pertumbuhan bisnis, khususnya bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah. Tantangan tersebut tidak hanya berasal dari sisi teknologi, tetapi juga keterbatasan akses terhadap data yang siap diolah menjadi keputusan bisnis. Hal ini disampaikan Galih Permadi dari Xquisite AI dalam acara Qwen and WAN Workshop yang digelar di Treasury Office SCBD 61F Jakarta pada 4 Februari 2026.
Galih menilai bahwa banyak perusahaan membutuhkan waktu yang sangat panjang untuk memahami model AI, aspek komersial, keamanan data, hingga implementasi nyata di dalam operasional bisnis. Proses tersebut umumnya memakan waktu antara enam bulan hingga satu tahun, dan menuntut ketersediaan tim internal yang lengkap, mulai dari AI engineer, data scientist, hingga AI operations.
Menurutnya, kondisi ini menjadi beban berat, terutama bagi UKM dan UMKM yang memiliki keterbatasan sumber daya manusia dan biaya pengembangan teknologi.
Kompleksitas AI Masih Jadi Hambatan Nyata Bagi UMKM
Galih mengungkapkan bahwa meskipun UKM dan UMKM menyumbang hingga 98 persen terhadap struktur ekonomi Indonesia, sekitar 80 persen di antaranya mengalami stagnasi atau bahkan gulung tikar pada tahun pertama hingga tahun ketiga. Salah satu penyebab utamanya adalah ketidakmampuan mengakses dan mengolah data secara efektif.
Ia menegaskan bahwa banyak pelaku usaha sebenarnya memiliki data, namun data tersebut tersebar, tidak terstruktur, dan sulit diubah menjadi insight yang dapat digunakan untuk mengambil keputusan. Tanpa kemampuan data intelligence, bisnis cenderung berjalan berdasarkan intuisi semata.
“Biasanya salah satunya yang terjadi adalah akses terhadap data,” ujar Galih.
Arsitektur AI End to End Jadi Fondasi Data Intelligence Perusahaan
![]() |
| Foto presentasi slide “How We Addressed The Challenges” – arsitektur AI stack |
Untuk menjawab tantangan tersebut, Xquisite AI menghadirkan pendekatan berbasis arsitektur AI end to end. Pendekatan ini memungkinkan perusahaan membangun sistem AI yang terintegrasi, mulai dari pengelolaan data, pemrosesan model, hingga pemanfaatan hasil analisis langsung di aplikasi bisnis.
Dalam pemaparannya, Galih menjelaskan bahwa perusahaan tidak lagi perlu membangun sistem yang kompleks dari nol atau merekrut banyak talenta spesialis AI. Dengan arsitektur modular, perusahaan dapat langsung memanfaatkan AI sebagai fondasi data intelligence tanpa harus memahami seluruh lapisan teknis secara mendalam.
Pendekatan ini dinilai krusial bagi UKM dan UMKM yang ingin memanfaatkan AI secara praktis, cepat, dan efisien.
Integrasi Qwen dan Alibaba Cloud Tawarkan AI yang Fleksibel dan Aman
![]() |
| Foto diagram integrasi Qwen, Alibaba Cloud, dan AI workflow |
Isu keamanan data dan efisiensi biaya juga menjadi perhatian utama dalam adopsi AI di tingkat enterprise. Galih menekankan bahwa perusahaan saat ini tidak lagi sekadar mencari API murah, melainkan membutuhkan platform AI yang aman, fleksibel, dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan bisnis.
Kemitraan dengan Alibaba Cloud dan Qwen dinilai strategis karena didukung oleh data center lokal di Indonesia. Galih menyebut bahwa Alibaba Cloud telah memiliki tiga pusat data di dalam negeri, sekaligus memberikan jaminan bahwa data perusahaan tidak digunakan untuk kepentingan lain.
Selain itu, Qwen menawarkan efisiensi biaya yang signifikan. Dengan kualitas model yang kompetitif, biaya penggunaan AI dapat ditekan hingga sekitar satu per delapan dibandingkan dengan solusi sejenis. Faktor ini menjadi pertimbangan penting dalam proses pengadaan dan perencanaan anggaran perusahaan.
Galih juga menekankan bahwa Qwen bukan hanya menawarkan model AI, tetapi sebuah platform dengan filosofi open source dan variasi model yang lengkap, termasuk model dengan parameter besar hingga triliunan. Pendekatan ini memungkinkan perusahaan membangun use case spesifik sesuai kebutuhan, layaknya menyusun balok Lego.
AI Ubah Data Sederhana Jadi Keputusan Bisnis Cepat
Sebagai contoh penerapan nyata, Galih menjelaskan bahwa pemilik bisnis kecil yang selama ini hanya mencatat penjualan menggunakan file Excel dapat langsung memanfaatkan AI berbasis percakapan. Dengan mengunggah data CSV dan memberikan konteks, AI mampu menghasilkan laporan analisis serta insight bisnis dalam waktu singkat.
“Yang tadinya business owner mungkin kemampuan Excel-nya pun juga bisa dibilang terbatas, itu butuh waktu lama,” ujarnya.
Melalui pendekatan ini, AI berperan sebagai jembatan antara data mentah dan keputusan bisnis, tanpa perlu membangun sistem Business Intelligence yang mahal atau menyewa konsultan eksternal.


