Strategi Bluebird Hadapi Disrupsi Teknologi Transportasi
![]() |
| CEO Bluebird Group, Andri Djokosoetono |
Depok, Stapo.id - CEO Bluebird Group, Andri Djokosoetono, memaparkan strategi perusahaan transportasi legendaris tersebut untuk tetap relevan di tengah gelombang disrupsi teknologi dan perubahan model bisnis industri mobilitas. Dalam forum Fortune Indonesia Summit yang berlangsung di The Westin Jakarta pada (12/2), ia menegaskan bahwa fondasi utama perusahaan yang berdiri sejak 1972 adalah konsistensi menjaga kualitas layanan dan nilai inti kepada pelanggan.
Menurut Andri, perusahaan tidak menjadikan perang harga sebagai fokus utama dalam menghadapi kompetisi yang semakin ketat. Ia menilai proposisi nilai jauh lebih penting, terutama jaminan keamanan dan kenyamanan penumpang. Ia menjelaskan bahwa meskipun harga tetap menjadi faktor pertimbangan konsumen, kepercayaan terhadap standar layanan adalah alasan utama pelanggan bertahan menggunakan layanan perusahaan selama puluhan tahun. Prinsip tersebut dinilai sebagai diferensiasi strategis di tengah maraknya platform transportasi berbasis teknologi.
Ia juga menyoroti pentingnya kehati hatian dalam mengadopsi inovasi digital. Andri mencontohkan pengalaman industri ketika beberapa pemain mengadopsi teknologi terlalu cepat tanpa kesiapan fondasi yang kuat, sehingga tidak mampu bertahan ketika platform yang digunakan runtuh. Pengalaman itu menjadi pelajaran berharga bahwa transformasi digital harus berjalan beriringan dengan kesiapan sistem, struktur, dan model bisnis yang matang.
Selain teknologi, perusahaan menempatkan suara pelanggan sebagai kompas utama pengembangan layanan. Masukan dan kritik dari pengguna dinilai menjadi sumber informasi paling relevan untuk meningkatkan kualitas operasional. Tantangan terbesar menurutnya adalah menjaga standar layanan tetap konsisten di tengah skala armada dan sumber daya manusia yang terus berkembang hingga puluhan ribu unit dan pengemudi. Karena itu, perusahaan membangun struktur organisasi yang memungkinkan proses pelayanan tetap terkendali sekaligus responsif terhadap kebutuhan pelanggan.
Strategi tersebut menunjukkan bahwa ketahanan perusahaan transportasi konvensional tidak semata ditentukan oleh kecepatan adopsi teknologi, tetapi juga oleh kekuatan fondasi layanan. Dengan menyeimbangkan inovasi digital, kualitas operasional, dan kepercayaan pelanggan, perusahaan berupaya memastikan posisinya tetap kompetitif dalam lanskap mobilitas yang terus berubah.
