Pemerintah Percepat Proyek Giant Sea Wall Pantura Rp1.680 Triliun
Depok, Stapo.id - Pemerintah resmi mempercepat persiapan pembangunan Giant Sea Wall atau tanggul laut raksasa di sepanjang Pantai Utara (Pantura) Jawa. Proyek strategis nasional ini diperkirakan membutuhkan investasi masif antara US$ 80 hingga 100 miliar, atau setara dengan Rp1.344 triliun hingga Rp1.680 triliun guna melindungi kawasan pesisir dari ancaman lingkungan ekstrem.
Kepala Badan Otorita Pengelola Pantai Utara Jawa (BOPPJ), Didit Herdiawan Ashaf, menjelaskan bahwa langkah percepatan ini diambil untuk mengatasi krisis lingkungan yang semakin mengkhawatirkan. Ancaman tersebut mencakup banjir rob yang persisten, degradasi lingkungan, penurunan muka tanah, hingga kelangkaan air tanah akibat eksploitasi berlebihan di kawasan tersebut.
Skema Pembiayaan dan Integrasi Aset
Pemerintah tengah mendalami skema pembiayaan yang mengombinasikan APBN dengan investasi swasta, baik domestik maupun internasional. Didit menegaskan bahwa setiap wilayah akan memiliki pendekatan pembiayaan yang berbeda sesuai karakteristiknya. Proyek ini direncanakan membentang sepanjang 535 kilometer dari Banten hingga Gresik, melindungi aset strategis seperti pelabuhan, bandara, dan kawasan industri yang dihuni sekitar 20 juta penduduk.
Selain berfungsi sebagai penahan air laut, Giant Sea Wall akan terintegrasi dengan pengembangan infrastruktur energi terbarukan, seperti Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) dan Surya (PLTS), serta pembangunan jalan tol dan waduk retensi. Hal ini diharapkan mampu menahan laju penurunan muka tanah di Pantura yang mencapai 4 hingga 7 sentimeter per tahun di beberapa lokasi strategis.
FAQ:
1. Apa tujuan utama proyek Giant Sea Wall? : Melindungi kawasan Pantura dari banjir rob, penurunan muka tanah, dan kerusakan infrastruktur strategis.
2. Berapa total panjang tanggul yang akan dibangun? : Tanggul laut raksasa ini direncanakan membentang sepanjang 535 kilometer dari Banten hingga Jawa Timur.
3. Berapa nilai investasi yang dibutuhkan? : Proyek ini diperkirakan membutuhkan dana antara Rp1.344 triliun hingga Rp1.680 triliun melalui skema pembiayaan campuran.