Inspirasi Asia: 4 Negara Sukses Ubah Sampah Jadi Listrik, Solusi Krisis Indonesia

Stapo Indonesia - Penulis
daftar webinar fundhub


Depok, Stapo.id - Krisis pengelolaan sampah nasional telah mencapai titik kritis. Data 2024 menunjukkan timbulan sampah nasional mencapai 38,2 juta ton, namun sayangnya hanya sekitar 34,7 persen yang berhasil dikelola. Menanggapi tantangan yang diproyeksikan melonjak hingga 82,2 juta ton pada tahun 2045 oleh Bappenas, pemerintah mulai serius melirik teknologi Waste-to-Energy (WtE) sebagai solusi transformatif yang menjanjikan. Melalui teknologi ini, sampah tidak hanya dikurangi secara signifikan, tetapi juga diolah menjadi sumber energi listrik yang andal dan berkelanjutan.

## Mempelajari Keberhasilan WtE dari Asia

WtE kini dipandang sebagai cara efektif untuk mengatasi masalah lingkungan sambil menciptakan sumber daya baru. Di kawasan Asia, beberapa negara telah membuktikan keberhasilan model ini. Singapura, yang minim lahan, memaksimalkan teknologi canggih seperti pada TuasOne WtE Plant yang mampu memproses 3.600 ton sampah per hari dan menghasilkan 120 MW listrik. Model Kemitraan Publik-Swasta (PPP) yang sukses diterapkan di sana dianggap sangat relevan bagi kota padat seperti Jakarta atau Surabaya, karena membagi beban pengelolaan dan investasi.

Jepang dan Korea Selatan menawarkan pendekatan yang berbeda dengan standar emisi yang sangat ketat. Jepang, dengan disiplin lingkungan tinggi, mengintegrasikan WtE (misalnya Toshima Plant) untuk memasok listrik bagi puluhan ribu rumah dan mendukung sistem pemanas kota, membuktikan bahwa pabrik WtE dapat berjalan berdampingan dengan kawasan urban berpenduduk padat. Sementara itu, Korea Selatan memiliki jaringan terintegrasi lebih dari 35 pembangkit WtE. Model ini sangat relevan bagi Indonesia mengingat karakteristik sampah Korea yang tinggi kadar air dan organik dinilai identik dengan kondisi perkotaan di Indonesia.

China, di sisi lain, menunjukkan keberhasilan WtE dalam skala raksasa. Ratusan fasilitas dibangun berkat kuatnya komitmen pemerintah, penyederhanaan regulasi, dan skema pembiayaan strategis. Kecepatan transfer teknologi dan efisiensi biaya yang dicapai China membuktikan bahwa sampah dapat menjadi peluang energi yang sangat signifikan bagi negara berpopulasi besar. Indonesia sendiri telah mengambil langkah awal melalui Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025. Stefanus Ade Hadiwidjaja, Managing Director Investment Danantara, menyebut program ini berpotensi menyelesaikan setidaknya 10 persen persoalan sampah nasional. Pengalaman sukses dari empat negara ini menegaskan bahwa dengan dukungan teknologi, regulasi yang tepat, serta investasi berkelanjutan, sampah bukan lagi beban, melainkan sumber daya yang siap dimanfaatkan.


FAQ:

1. Berapa volume sampah nasional Indonesia saat ini dan proyeksinya di masa depan?

Volume sampah nasional tercatat mencapai 38,2 juta ton pada tahun 2024, dan diproyeksikan dapat melonjak hingga 82,2 juta ton pada tahun 2045.

2. Mengapa model WtE dari Korea Selatan dinilai relevan bagi Indonesia?

Karakteristik sampah Korea Selatan, yang memiliki kadar air dan kandungan organik tinggi, dinilai hampir identik dengan komposisi sampah kota-kota besar di Indonesia, menjadikannya referensi yang cocok dari segi teknologi pengolahan.

daftar webinar fundhub

Bottom Ad [Post Page]

Kabar

Event

Bisnis

Memuat berita Bisnis...

Insight

Invest

Otomotif

Tech