Gen Z Semakin Akrab Curhat ke AI, Ahli Soroti Implikasi Hubungan

Stapo Indonesia - Penulis
daftar webinar fundhub


Depok, Stapo.id - Generasi Z semakin menunjukkan preferensi untuk berbagi masalah dan perasaan dengan kecerdasan buatan (AI) daripada manusia, sebuah fenomena yang terlihat dari peningkatan penggunaan aplikasi pendamping berbasis AI. Sebuah studi terbaru pada tahun 2024 mengungkapkan bahwa sekitar 40% pengguna aplikasi tersebut bahkan mengaku berada dalam hubungan romantis dengan chatbot yang mereka gunakan. Para ahli menegaskan bahwa respons dari chatbot hanyalah hasil algoritma yang dirancang untuk meniru percakapan manusia, bukan cerminan kesadaran atau perasaan.

 Renwen Zhang, asisten profesor di bidang komunikasi dan media baru National University of Singapore, mengungkapkan kekhawatirannya akan strategi chatbot yang "berpura-pura menjadi manusia" untuk meningkatkan keterlibatan pengguna. Penelitiannya terhadap lebih dari 10.000 percakapan menunjukkan banyak pengguna membentuk keterikatan emosional dengan AI, namun mereka juga sering diingatkan bahwa mereka berinteraksi dengan mesin, terutama saat sistem mengalami gangguan. Secara ilmiah, cinta pada manusia melibatkan proses biologis yang kompleks dengan dorongan nafsu, ketertarikan, dan keterikatan, seperti yang dijelaskan oleh antropolog biologis Helen Fisher. Proses ini dipicu oleh zat kimia otak seperti dopamin dan oksitosin. 

Berbeda jauh, AI hanya mampu meniru pola percakapan dan memahami konteks emosi berdasarkan data yang telah dipelajarinya, tanpa benar-benar merasakan apa pun, menjadikan hubungan manusia dengan AI pada dasarnya bersifat satu arah. Renwen menilai interaksi dengan AI memang bisa memberikan rasa nyaman sementara karena pengguna merasa didengar tanpa dihakimi. Namun, dalam jangka panjang, hal ini dikhawatirkan dapat memengaruhi kemampuan individu dalam membangun dan menjaga relasi di dunia nyata. Ia menekankan bahwa pelarian sementara dari kerumitan hubungan manusia ini tidak akan membantu mengembangkan keterampilan komunikasi yang esensial. 

Debat mengenai kemungkinan AI memiliki kesadaran di masa depan juga muncul. Sejumlah ilmuwan, termasuk profesor ilmu kognitif Donald Hoffman dari University of California, Irvine, berpendapat bahwa teknologi saat ini masih jauh dari tahap tersebut dan bahkan belum diketahui bagaimana memulainya. Meskipun ada teori yang membahas potensi mesin menjadi lebih kompleks, konsensus para ahli tetap bahwa AI saat ini tidak memiliki kesadaran, keyakinan, atau keinginan layaknya manusia. 

Fenomena kedekatan emosional ini mencerminkan kebutuhan dasar manusia untuk merasa didengar dan dipahami, tetapi pakar menegaskan bahwa cinta dalam makna biologis dan psikologis adalah pengalaman manusia yang belum dapat digantikan mesin. 


daftar webinar fundhub

Bottom Ad [Post Page]

Kabar

Event

Bisnis

Memuat berita Bisnis...

Insight

Invest

Otomotif

Tech