Accelerating Asia Soroti Vertikal Baru, Ubah Produk Pertanian Jadi Aset Finansial
Depok, Stapo.id - Accelerating Asia, perusahaan venture capital tahap awal yang berbasis di Singapura, menegaskan arah strategi investasinya dengan menyoroti sektor vertikal baru yang menggabungkan teknologi, keuangan, dan sektor riil. Fokus tersebut disampaikan dalam acara Networking Happy Hour yang digelar di Doki Doki Bulungan, Jakarta Selatan, pada 3 Februari 2026, sekaligus menjadi ajang diskusi terbuka dengan para pelaku startup dan ekosistem teknologi di Indonesia.
Sebagai early-stage Venture Capital Fund, Accelerating Asia dikenal melalui program akselerator unggulan dan pendanaan Pre-Seri A yang mendukung startup berdampak tinggi di berbagai sektor. Perusahaan ini tidak hanya memberikan pendanaan dengan skema yang ramah pendiri, tetapi juga membuka akses ke jaringan mentor, investor, pelanggan, serta mitra strategis dari kalangan korporasi multinasional, pemerintah, organisasi pembangunan, dan institusi pendidikan di kawasan Asia.
Ventures Partner sekaligus Investor Relations Accelerating Asia, Osman Ahmed, mengungkapkan bahwa perusahaan saat ini memberi perhatian besar pada FinTech dan Agrotech. Namun, pendekatan Agrotech yang diusung berbeda dari pola konvensional. Accelerating Asia mendorong model bisnis yang mampu mengubah produk pertanian menjadi aset finansial, sehingga menciptakan nilai tambah baru di sektor agrikultur berbasis teknologi.
Sektor yang Akan Accelerating Asia Bidik
Selain sektor tersebut, Accelerating Asia juga melihat potensi besar pada teknologi sosial dan pendidikan. Osman menyebutkan bahwa perusahaan tengah menyiapkan program baru yang berfokus pada pendidikan sosial, dengan sasaran perempuan dari berbagai negara yang sedang berada dalam fase transisi hidup maupun karier. Program ini dirancang untuk membangun keterampilan praktis yang relevan dengan kebutuhan pekerjaan, bukan sekadar memberikan sertifikasi atau gelar formal.
Menurut Osman, filosofi pelatihan Accelerating Asia mengalami pergeseran signifikan. Program yang dikenal dengan pendekatan H10 lebih menitikberatkan pada pengembangan kemampuan spesifik sesuai peran pekerjaan. Teknologi dimanfaatkan sebagai alat untuk menciptakan talenta siap kerja yang mampu menjawab tantangan masa depan dan kebutuhan industri yang terus berkembang.
Meskipun seluruh startup yang masuk ke dalam program harus berbasis teknologi, Accelerating Asia tidak membatasi diri pada jenis teknologi tertentu. Skala dan dampak menjadi pertimbangan utama dalam proses seleksi. Hal ini tercermin dari tingginya minat pendaftar, dengan lebih dari 700 aplikasi yang masuk ke dalam program mereka.
Osman juga menekankan bahwa Accelerating Asia menargetkan generasi pendiri startup yang memiliki ambisi besar dan orientasi pada penciptaan nilai jangka panjang. Bagi perusahaan, keberhasilan program tidak hanya diukur dari pertumbuhan teknologi, tetapi dari dampak nyata yang dihasilkan melalui aksi dan implementasi di lapangan. Pendekatan ini menjadi fondasi Accelerating Asia dalam mendukung adopsi teknologi baru secara lebih efektif di berbagai sektor ekonomi.

