Startup ASEAN Perlu Adaptasi Produk dan Kredibilitas untuk Tembus Australia dan Jepang

Pradahlan Sindu Mardiko - Penulis
daftar webinar fundhub

 


Depok, Stapo.id – Adaptasi produk dan pembangunan kredibilitas dinilai menjadi faktor paling krusial bagi startup Asia Tenggara yang ingin menembus pasar Australia dan Jepang. Hal tersebut mengemuka dalam acara Scaling Across Borders: ERIA Startup Case Study Launch yang digelar di kantor ERIA, Sentral Senayan II lantai 15, Jakarta (23/1), yang membedah strategi ekspansi lintas negara melalui studi kasus startup ASEAN.

Dalam sesi diskusi, Yonathan Wijaya memaparkan karakter unik pasar Australia yang berbeda signifikan dengan Asia Tenggara. Menurutnya, sektor-sektor seperti keuangan dan kesehatan memiliki tingkat regulasi tinggi, sehingga startup tidak cukup hanya mengandalkan strategi pemasaran agresif, melainkan harus menyesuaikan inti produk mereka dengan kebutuhan lokal. Ia menilai pendekatan B2C yang bertumpu pada diskon dan promosi, yang lazim di Asia Tenggara, tidak efektif di Australia karena konsumen lebih mengutamakan reputasi, pengakuan merek, serta kredibilitas.

Yonathan menekankan bahwa startup yang ingin masuk ke Australia perlu benar-benar membangun kepercayaan sejak awal, baik melalui mitra lokal maupun reputasi yang kuat. Perannya, kata dia, lebih banyak membantu startup menemukan saluran dan calon mitra potensial, namun tantangan terbesar tetap terletak pada bagaimana startup membuktikan diri sebagai pihak yang layak dipercaya untuk diajak bekerja sama.

Perspektif serupa disampaikan Kentaro Machii Programme Manager on Startup Ecosystem ERIA terkait pasar Jepang. Ia menyebut bahwa selain regulasi, tantangan utama perusahaan asing adalah menemukan mitra yang andal. Berdasarkan berbagai survei, perusahaan asing yang sukses di Jepang menempatkan kepercayaan mitra sebagai faktor paling menentukan keberlangsungan bisnis. Menurut Machii, mitra yang tepat tidak selalu berarti perusahaan besar, melainkan bisa berupa individu lokal atau pembentukan tim lokal, selama mampu menciptakan fondasi kepercayaan jangka panjang.

Dari sisi perbankan, Head of BNI Tokyo Branch Hariadi Hendrawan menyoroti pentingnya kesiapan struktural sebelum startup berekspansi. Ia mengingatkan agar startup tidak hanya fokus pada produk dan akuisisi pelanggan, tetapi juga memastikan pondasi hukum dan struktur keuangan telah siap sejak awal. Menurutnya, banyak startup menghadapi hambatan besar pada 100 hari pertama operasional di luar negeri karena mengabaikan aspek legal dan pembiayaan lokal.

Hariadi menilai pendirian entitas hukum yang sah serta akses terhadap pendanaan setempat akan mempermudah adaptasi terhadap budaya bisnis Jepang yang memiliki tuntutan regulasi teknologi ketat dan etika kerja yang sangat spesifik.

Sementara itu, pengalaman praktis dibagikan oleh Bintang Hidayanto, Co Founder dan CEO Gani.ai. Ia menegaskan bahwa lokalisasi produk adalah strategi nomor satu dalam ekspansi internasional. Bagi Bintang, produk tidak boleh hanya diterjemahkan, tetapi harus terasa sebagai produk lokal di pasar tujuan. Ia mencontohkan bahwa Gani.ai membentuk tim lokal di Jepang serta menyediakan materi promosi berbahasa Jepang agar produknya diterima sebagai solusi yang relevan bagi pasar setempat.

Bintang juga mengungkap perbedaan karakter pelanggan Jepang dan Australia. Di Jepang, pelanggan menyukai proses pelatihan intensif dan interaksi yang lebih personal, sementara di Australia pasar cenderung menginginkan layanan cepat dan mandiri. Menurutnya, memahami perbedaan ini menjadi kunci agar startup tidak salah langkah dalam merancang model operasional lintas negara.

Melalui forum ini, ERIA menegaskan bahwa ekspansi startup ASEAN ke Australia dan Jepang bukan sekadar persoalan skala pasar, melainkan menuntut kesiapan adaptasi produk, strategi lokal, serta pembangunan kepercayaan dan struktur bisnis yang solid.

daftar webinar fundhub

Bottom Ad [Post Page]

Kabar

Event

Bisnis

Memuat berita Bisnis...

Insight

Invest

Otomotif

Tech