Global Memanas: Media Internasional Soroti Risiko Nyata Menuju Perang Dunia III

Stapo Indonesia - Penulis
daftar webinar fundhub

 

Depok, Stapo.id - Ketegangan geopolitik global telah mencapai titik kritis, memicu kekhawatiran luas di kalangan media dan analis internasional bahwa dunia sedang berada di ambang konflik skala besar atau Perang Dunia III. Eskalasi terjadi serentak di lima wilayah utama: Eropa Timur, Timur Tengah, Asia Timur, Semenanjung Korea, dan bahkan Benua Merah, menunjukkan tatanan internasional yang semakin rapuh.


Analisis dari media kredibel seperti The New Yorker menyoroti bahwa kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang dinilai "narcissistic unilateralism," terutama di bawah kepemimpinan Donald Trump, telah merusak konsensus global. Pendekatan sepihak ini, mulai dari sikap agresif di Timur Tengah hingga tekanan terhadap Venezuela, menciptakan preseden berbahaya bagi kekuatan ekspansionis seperti China dan Rusia untuk bergerak. Sementara itu, The Telegraph secara tegas menyatakan bahwa prospek Perang Dunia III terasa semakin dekat, dengan beberapa pihak meyakini konflik tersebut bahkan sudah dimulai.


Timur Tengah menjadi sumbu konflik paling rawan, di mana Iran dan AS serta Israel berada dalam status siaga tinggi. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di Teheran menegaskan kesiapan negaranya menghadapi perang menyusul ancaman intervensi militer AS. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, bahkan memperingatkan bahwa setiap serangan akan dibalas terhadap Israel dan pangkalan militer AS di kawasan tersebut. Analis dari Centre for Existential Risk Universitas Cambridge juga menekankan risiko tetap "sangat berbahaya" mengingat Iran masih menyimpan uranium yang diperkaya tinggi.


Rusia dan NATO juga meningkatkan kewaspadaan di Eropa. Analis Wolfgang Munchau mencatat adanya "kesiapan retorika untuk konflik bersenjata dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya." Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, bahkan mengingatkan Barat harus siap menghadapi perang sebesar yang dialami generasi sebelumnya. Rusia turut meningkatkan produksi misil hipersonik dan menguji pertahanan NATO melalui pelanggaran wilayah udara di negara-negara Baltik, memicu kekhawatiran mendalam di Benua Biru.


Di Asia, fokus tertuju pada Selat Taiwan. Latihan tembak langsung Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA) dinilai sebagai simulasi blokade nyata. China terus mengembangkan kemampuan amfibi dan pemotong kabel bawah laut yang berpotensi melumpuhkan jaringan internet negara lain. Tak ketinggalan, Korea Utara turut berkontribusi dalam ketegangan global setelah Kim Jong Un memerintahkan peningkatan produksi senjata besar-besaran dan menjauh dari gagasan reunifikasi damai dengan Korea Selatan, mempererat hubungan militer dengan Rusia. Para ahli memperingatkan bahwa tanpa kendali diplomatik yang efektif, dunia berisiko "tertidur" menuju konflik besar yang dampaknya akan sulit dihindari.


FAQ:

1. Apa saja lima titik konflik utama yang disoroti media internasional?

Lima titik konflik utama adalah Eropa Timur (Rusia vs NATO), Timur Tengah (Iran vs AS/Israel), Asia Timur (China vs Taiwan), Semenanjung Korea (Korut), dan Benua Merah.

2. Bagaimana sikap Iran menghadapi ancaman intervensi militer AS?

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa meskipun negaranya tidak mencari perang, mereka siap sepenuhnya jika konflik pecah. Iran juga mengancam akan membalas setiap serangan dengan menyerang Israel serta pangkalan dan kapal militer AS di kawasan tersebut.


daftar webinar fundhub

Bottom Ad [Post Page]

Kabar

Event

Bisnis

Memuat berita Bisnis...

Insight

Invest

Otomotif

Tech