Edmund Ungkap Alasan Startup Sulit Dapat Pendanaan di Indonesia

Pradahlan Sindu Mardiko - Penulis
daftar webinar fundhub

 

Edmund Carulli, Senior Vice President (SVP) Investment BNI Ventures

Depok, Stapo.id - Dinamika pendanaan startup di Indonesia dalam tiga tahun terakhir mengalami perubahan signifikan. Tidak lagi sekadar soal seberapa cepat sebuah startup bertumbuh, kini investor semakin menaruh perhatian besar pada fundamental bisnis. Hal ini diungkapkan Edmund Carulli, praktisi investasi yang telah malang melintang selama delapan tahun di dunia Venture Capital dan Corporate Venture Capital, dengan total dana kelolaan mencapai sekitar USD 150 juta serta hampir 50 startup yang pernah berada dalam portofolionya.

Edmund yang merupakan lulusan S2 MBA Lancaster University dan juga Dosen Praktisi di Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS) pada program Magister Innovation System and Technology (MIST) menilai banyak startup di Indonesia gagal mendapatkan pendanaan bukan karena kurang menarik, melainkan karena tidak lolos dalam proses due diligence. Ia menjelaskan bahwa saat ini investor menemukan banyak kesenjangan pada aspek governance yang lemah, unit economics yang tidak sehat, serta data bisnis yang tidak konsisten. Bahkan dari sisi pendiri, tidak sedikit yang gagal dalam proses Know Your Founder, terutama terkait rekam jejak, integritas, dan transparansi.

Menurut Edmund, sejumlah kasus besar seperti eFishery dan TaniHub menjadi pelajaran penting bagi investor untuk bersikap jauh lebih berhati-hati. Jika sebelumnya narasi pertumbuhan menjadi daya tarik utama, kini investor kembali menaruh fokus pada dasar-dasar bisnis yang kokoh. Ia menegaskan bahwa saat ini growth story tanpa fundamental yang sehat sudah tidak lagi cukup untuk meyakinkan investor.

Sorotan Edmund Startup Indonesia Saat Ini

Di tengah situasi tersebut, Edmund juga menyoroti fenomena sebagian startup yang memilih menolak pendanaan dari Venture Capital. Baginya, keputusan tersebut bukanlah sesuatu yang keliru, justru mencerminkan kedewasaan ekosistem. Ia menilai tidak semua bisnis cocok dengan karakter VC money yang menuntut pertumbuhan agresif dan tekanan menuju exit. Untuk startup dengan model bisnis yang lebih relevan tumbuh perlahan namun profitabel, jalur bootstrapping atau Angel Investor bisa menjadi pilihan yang lebih sehat. Yang terpenting, menurutnya, bukan sekadar mendapatkan VC, melainkan memastikan strategi pendanaan sejalan dengan visi dan misi bisnis.

Pengalaman Speed Dating Startup Menjadi Kunci

Saat Sesi 1 on 1 Antara Edmund dan Peserta Bootcamp IndoBisa 2024

Pengalaman Edmund berinteraksi langsung dengan para founder juga memberikan perspektif menarik, terutama saat sesi speed dating dengan startup. Ia mengaku, yang paling berkesan bukanlah pitch yang paling mulus, melainkan founder yang jujur terhadap masalah yang sedang dihadapi. Ia pernah menemui founder yang sejak awal mengakui bahwa model bisnis mereka belum menemukan bentuk ideal dan masih dalam tahap eksperimen. Bagi Edmund, kejujuran semacam ini jauh lebih bernilai dibanding presentasi yang tampak sempurna tetapi kosong secara substansi. Ia menilai sesi tersebut sejatinya menjadi ajang membaca karakter founder, bukan sekadar mendengarkan ide bisnis.

Dalam menilai keberhasilan sebuah startup meraih investasi, Edmund menekankan bahwa faktor kunci tidak hanya terletak pada founder yang mampu mengeksekusi dan memiliki kepemimpinan kuat. Ia melihat selalu ada peran penting dari tim atau co-founder yang solid, tata kelola yang rapi dari sisi keuangan, legal, hingga operasional, serta mentor atau advisor yang kredibel yang mampu membantu founder berpikir realistis dan tidak terjebak pada janji berlebihan.

Berangkat dari pengalamannya mengelola dana di Corporate Venture Capital yang umumnya bersifat evergreen, strategis, dan memiliki karakter patience capital, serta mengelola dua fund Venture Capital dengan investor eksternal, Edmund membagikan pandangannya kepada para startup pemula. Ia menilai banyak founder terlalu terburu-buru bertemu investor sebelum benar-benar siap. Menurutnya, kesiapan dataroom, pemahaman metrik bisnis, riset terhadap profil investor, serta kemampuan membangun relasi strategis jauh lebih penting dibanding sekadar tampil dengan pitch deck yang menarik.

Apa Pesan Khusus Dari Edmund Mengenai Pondasi Bisnis dan Pendanaan? 

Ia juga mengingatkan bahwa tidak ada salahnya mengakui ketidaktahuan, selama disertai dengan rencana yang jelas. Bagi Edmund, membangun bisnis yang sehat harus selalu menjadi prioritas utama, sementara fundraising hanyalah katalis, bukan tujuan akhir. Pesan ini menjadi refleksi penting bagi startup di Indonesia agar tidak terjebak pada euforia pendanaan, melainkan fokus pada membangun fondasi bisnis yang berkelanjutan.


Interviewer : Pradahlan Sindu Mardiko

Narasumber : Edmund Carulli

daftar webinar fundhub

Bottom Ad [Post Page]

Kabar

Event

Bisnis

Memuat berita Bisnis...

Insight

Invest

Otomotif

Tech