Dari Reporter hingga Remote Working Global, Dewi Fadhilah Soemanegara Suarakan Kemandirian Perempuan
![]() |
| Dewi Fadhilah Soemanegara, Founder Aksa Academy |
Depok, Stapo.id - Perjalanan karir Dewi Fadhilah Soemanegara menjadi potret nyata bagaimana pengalaman lintas bidang dapat membentuk perspektif yang matang dalam menghadapi dunia kerja modern. Lulusan S1 Arkeologi Universitas Indonesia dan pernah mengenyam pendidikan S2 Master of Arts bidang Culture Studies dan Critical Theory dari Universitas Gadjah Mada ini tidak hanya dikenal sebagai solo wanita karir, tetapi juga pernah mengawali perjalanan profesionalnya sebagai reporter di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, dan melanjutkan langkah jurnalistiknya di berbagai media nasional, seperti Majalah Gatra, MNews.co.id, dan Bisnis Indonesia.
Pengalaman jurnalistik tersebut, menurut Dewi, menjadi fondasi penting dalam membangun cara berpikir kritis, kepekaan sosial, serta kemampuan komunikasi yang kini sangat relevan dalam dunia kerja jarak jauh. Setelah menapaki dunia media, Dewi menjalani transisi karir yang tidak mudah, termasuk meninggalkan jalur yang dianggap mapan untuk mengeksplorasi peluang kerja remote dan membangun inisiatifnya sendiri.
Dalam wawancara yang berlangsung pada 13 Januari 2026, Dewi berbagi kisah tentang tantangan relasi kerja jarak jauh, mulai dari pencarian rekan kolaborasi hingga kesulitan menemukan co-founder yang sejalan. Ia menekankan bahwa kesamaan nilai, energi, dan visi jauh lebih krusial dibanding sekadar kesamaan latar belakang profesional. Menurutnya, banyak startup atau usaha gagal berkembang bukan karena kurang ide, melainkan karena ketidaksiapan membangun relasi kerja yang sehat dan fleksibel.
Pengalaman Berharga Saat Bekerja Dengan Orang Luar Negeri
Pengalaman bekerja dengan klien internasional juga menjadi bagian penting dari perjalanannya. Salah satu kisah yang paling membekas adalah ketika Dewi menangani klien asal Rusia dan Amerika Serikat. Perbedaan waktu enam hingga dua belas jam membuatnya harus menyesuaikan jadwal kerja secara ekstrem, bahkan menjalani rapat hingga pukul satu dini hari waktu Indonesia. Situasi ini, kata Dewi, menjadi tantangan tersendiri bagi seorang solopreneur yang harus mengelola stamina, emosi, dan batasan kerja secara mandiri.
Selain aktif bekerja secara remote, Dewi juga dikenal gemar berbagi dan mendampingi sesama pekerja. Ia terlibat dalam kegiatan mentoring melalui Dealls, sebuah platform yang berfokus pada pengembangan arah karir dan proses manifestasi tujuan profesional. Melalui mentoring tersebut, Dewi kerap membantu para pekerja muda memahami potensi soft skill mereka, menyelaraskan minat dengan peluang kerja, serta membangun kepercayaan diri dalam mengambil keputusan karir.
Isu kesehatan mental dan dukungan emosional menjadi perhatian khusus Dewi dalam setiap aktivitasnya. Ia menilai bahwa kemandirian dan kebebasan bekerja sering kali datang bersamaan dengan rasa kesepian dan tekanan psikologis. Melalui inisiatif yang ia bangun, Dewi ingin menghadirkan ruang aman bagi individu yang sedang berada dalam fase ketidakpastian hidup dan karir. Identitas dan logo Aksa, menurutnya, dirancang sebagai simbol kejelasan dan bimbingan di tengah kebingungan arah hidup.
Apa Arti Woman Independent dan Woman Empowerment dimata Dewi?
Dalam diskusi bersama Pradahlan (Co Founder dan Citizens Journalist), Dewi juga mengangkat makna Woman Independent dan Women Empowerment. Ia memaknai kemerdekaan perempuan sebagai kemampuan untuk berdiri di atas pilihan sendiri, tanpa menutup diri dari dukungan emosional dan kolaborasi. Keduanya sepakat bahwa kolaborasi ideal harus dilandasi empati, nilai bersama, serta keinginan untuk saling bertumbuh, bukan sekadar kepentingan jangka pendek. Percakapan tersebut pun membuka peluang kerja sama di masa depan yang berfokus pada kontribusi nyata dan kebermanfaatan.
Interviewee : Pradahlan Sindu Mardiko
Narasumber: Dewi Fadillah Soemanegara


