Brand Premium Sulit Ikuti Tren Viral, Digital Marketing Specialist Arka Group Ungkap Tantangan Konten

Pradahlan Sindu Mardiko - Penulis
daftar webinar fundhub

 


Depok, Stapo.id – Dinamika pengelolaan konten digital hari ini menuntut kecepatan, kreativitas, sekaligus konsistensi identitas merek. Tantangan tersebut menjadi semakin kompleks ketika berhadapan dengan brand premium yang dituntut menjaga citra eksklusif, di tengah derasnya arus tren viral yang cenderung kasual dan spontan. Hal ini diungkapkan oleh Hilda Kosasih, Digital Marketing Specialist Arka Group, saat menjadi pembicara dalam Panel Discussion “BSD Banget: Celebrating Innovation Lifestyle and Community” di Inside Living Lab Ventures Digital Experience Center, GOP 9 BSD City, Selasa, 27 Januari 2026.

Hilda menuturkan bahwa setiap merek memiliki karakter dan pendekatan konten yang berbeda, namun brand premium cenderung menjadi yang paling menantang untuk digarap. Menurutnya, brand dengan positioning premium memiliki identitas visual, tone komunikasi, dan nilai yang sudah sangat mapan sehingga tidak mudah diselaraskan dengan pola konten viral yang sering kali ringan, lucu, bahkan cenderung spontan. Dalam konteks ini, mengejar viralitas semata justru berisiko menggerus persepsi eksklusivitas yang telah dibangun.

Ia mencontohkan, brand seperti Freko atau Gion tidak dapat serta-merta mengikuti tren TikTok atau Instagram berupa tarian karyawan atau konten hiburan populer lainnya. Bukan karena tidak mampu secara teknis, tetapi karena format tersebut tidak sejalan dengan citra brand yang ingin dijaga. Sebaliknya, merek dengan karakter fun seperti Tokyo Sushi justru lebih fleksibel, karena segmentasi audiensnya lebih muda dan terbuka terhadap pendekatan konten yang playful.

Lebih jauh, Hilda juga menyoroti tantangan dalam perencanaan kampanye strategis berskala besar. Ia menjelaskan bahwa membangun kesinambungan pesan dari satu kuartal ke kuartal berikutnya membutuhkan proses penyesuaian yang jauh lebih panjang dibandingkan produksi konten harian seperti caption atau unggahan rutin. Dalam konteks brand premium, perubahan arah pesan tidak bisa dilakukan secara instan karena menyangkut konsistensi citra jangka panjang.

Isu Brand dan Gimmick Menurut Hilda

Selain isu brand, Hilda turut mengamati pergeseran perilaku audiens digital sejak 2025 hingga 2026. Menurutnya, masyarakat kini semakin enggan terlibat dalam interaksi yang terlalu berlapis dan sarat gimmick, seperti giveaway dengan syarat yang panjang dan rumit. Audiens digital saat ini, kata dia, lebih menghargai komunikasi yang langsung, sederhana, dan relevan dengan kebutuhan mereka.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa tantangan digital marketing hari ini bukan semata soal mengikuti tren, melainkan bagaimana menyelaraskan kecepatan platform dengan kedalaman strategi brand. Bagi brand premium, keberhasilan konten bukan diukur dari viralitas semata, melainkan dari seberapa konsisten pesan dan nilai yang berhasil ditanamkan di benak audiens.

daftar webinar fundhub

Bottom Ad [Post Page]

Kabar

Event

Bisnis

Memuat berita Bisnis...

Insight

Invest

Otomotif

Tech